Arsip Tag: Perangkat Lunak

Untuk Ujian Pilih Pensil dan Alat Pemeriksa Yang Pasti!

Saat akan ujian SMA hingga UMPTN, penulis adalah pengguna setia pensil 2B Faber-Castell. Kekuatan dan kualitas hasilnya tidak diragukan lagi, apalagi waktu itu tidak ada palsunya. Beda dengan 2B saingannya yang berwarna biru yang versi palsunya pernah menjadikan penulis sebagai korban sehingga LJK ujian di sekolah tidak terbaca.

Pensil LJK 2B Faber-Castell  kini begitu mudah ditemui di mana-mana. Di Yogya Kepatihan Bandung, penulis menemukan paket ujian lengkap dari Faber-Castell dengan harga 28 ribuan, isinya sepaket pensil, serutan, penghapus dan papan alas untuk ujian.

Di brosurnya tertulis motto “Untuk Ujian Pilih yang Pasti!”, setelah itu terdapat keterangan “OMR tested” dan “DMR tested”. OMR dan DMR itu apa sih?

OMR
OMR adalah sebuah teknologi, singkatan dari Optical Mark Recognition, teknologi lama berupa scanner khusus untuk ujian. Scanner OMR umumnya dibeli penyelenggara ujian sebelum tahun 2004/2005. Prinsip kerjanya membaca tanda pada LJK, lalu hasilnya adalah file teks tanpa file image/gambar.

Form LJK OMR dan Scanner OMR

Ciri khas form OMR adalah LJK yang tebal, garis-garis hitam di pinggir kiri atau bawah, LJK harus berwarna (merah/hijau/biru/jingga), serta pengisian yang harus dengan bulatan rapih. Harga mesinnya di atas 50 juta rupiah sehingga yang memilikinya sangat terbatas. Jangan harap SD Negeri bisa punya mesin OMR sendiri.

DMR
Dalam 5 tahun terakhir, ribuan penyelenggara ujian beralih ke produk Digital Mark Reader (DMR), sistem pemeriksa LJK berbiaya rendah hasil riset professor Iping di Teknik Informatika ITB.

Setidaknya lebih dari 80 universitas ternama telah menggunakan DMR, diikuti oleh ratusan dinas pendidikan, sekolah dan lembaga pendidikan yang juga menggunakan DMR.

Depdiknas, Depag, Dephut, Dephan, Depnakertrans, Setneg, Kepolisian, TNI, BKN, Kementerian PAN, dan berbagai lembaga pemerintah yang lain, industri swasta, perbankan, BUMN, dan berbagai penyelenggara psikotest juga lebih memilih DMR karena berbagai alasan. Apa saja alasannya?
Baca lebih lanjut

Iklan

8 Joki Teridentifikasi Pada Uji Teknis Peralatan UN Depdiknas

joki1.jpg
Ujian Nasional (UN) dan Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional (UASBN) akan segera digelar. Depdiknas tengah mempersiapkan segala yang dibutuhkan, termasuk peralatan pemeriksaan ujian. Namun proses pengadaannya pun tidak lepas dari praktek perjokian, yakni saat berlangsungnya uji teknis pengadaan peralatan ujian nasional dari tanggal 28 Februari hingga 4 Maret 2008 di Pusat Penilaian Pendidikan (Puspendik), Balitbang Depdiknas, Jl Gunung Sahari Raya, Jakarta.

Terdapat 8 joki dengan kemampuan intelelektual tinggi yang teridentifikasi pada uji teknis tender pengadaan peralatan ujian nasional senilai Rp 19 milyar di Depdiknas. Mereka disusupkan, disamarkan dan disebar oleh salah satu vendor perangkat lunak menjadi karyawan dadakan pada 5 dari 16 perusahaan peserta lelang agar dapat menjadi operator perangkat lunak yang diuji.

Dari beberapa joki diperoleh keterangan bahwa para joki yang sebenarnya berlevel trainer tersebut menganggap perbuatan mereka sah-sah saja. Mereka bersedia menjadi joki karena tidak tahu mengenai urgensi uji teknis pada pengadaan peralatan ujian nasional. Padahal, salah satu kriteria penting yang diuji pada uji teknis adalah tingkat kemudahan penggunaan perangkat lunak.

Waktu yang tersedia bagi pelatihan perangkat lunak terpilih sangat singkat dan 509 unit sistem pemeriksa ujian tersebut nantinya akan digunakan secara tersebar di setiap dinas pendidikan kota dan kabupaten. Atas latar belakang itu, panitia uji teknis sejak jauh hari telah menetapkan peraturan tegas bahwa operator harus berasal dari perusahaan peserta lelang, bukan vendor perangkat lunak.

Dengan keterlibatan 8 orang joki pada 5 perusahaan peserta lelang, proses penilaian uji teknis menjadi bias sehingga berpotensi mengakibatkan kerugian negara hingga milyaran rupiah sebagaimana telah terjadi sebelumnya pada pengadaan peralatan serupa pada tahun 2007. Dapat diterima dengan nalar, perangkat lunak yang memerlukan joki setingkat trainer sebagai operator pasti akan bermasalah ketika digunakan oleh orang biasa.

Panitia uji teknis yang telah mendapatkan peringatan mengenai kehadiran para joki memilih untuk diam sambil menutup mata. Mereka seakan-akan menjadi bagian dari konspirasi dengan melindungi perusahaan peserta lelang yang melibatkan para joki. Panitia hanya memperhatikan pembenaran secara administratif, bahwa setiap operator telah mendapatkan surat tugas dari perusahaan peserta lelang.

Panitia juga tampak berpihak ke salah satu vendor perangkat lunak dengan mengubah jadwal serta metode pelaksanaan uji teknis akibat ketidakmampuan salah satu vendor perangkat lunak untuk melalui salah satu tahap uji. Dalam tender ini, panitia juga meniadakan komponen penilaian yang sangat substantif bagi setiap sistem pemeriksa ujian yang ikut ‘diperlombakan’ pada uji teknis.

Seharusnya beberapa hal berikut juga turut dinilai:
1. Kredibilitas pengembang perangkat lunak sebagai tim (bukan perseorangan belaka).
2. Kapabilitas pengembangnya sebagai perusahaan dalam menjamin keberlanjutan usia perangkat lunak.
3. Kualitas dukungan teknis dan jangkauan pelayanan kepada pengguna perangkat lunak.
4. Pengalaman penggunaan perangkat lunak dalam pemeriksaan ujian yang pengisiannya dengan tanda silang dengan volume pekerjaan minimum 100 ribu lembar.

Kriteria penilaian dari segi pengalaman sangat penting mengingat bahwa 15 juta lembar jawab UASBN (SD/MI/SDLB) yang pengisiannya menggunakan tanda silang dijadwalkan akan diperiksa oleh lebih dari 450 dinas pendidikan kabupaten dan kota di Indonesia. Bila sistem pemeriksaan ujian yang terpilih cenderung dipaksakan menggunakan perangkat lunak dari salah satu vendor yang belum terpercaya, maka hasil UN dan UASBN yang diperoleh dapat meleset dari kenyataan sebenarnya sehingga tidak dapat menjadi tolok ukur kebijakan lokal maupun nasional dalam bidang pendidikan tahun ini maupun tahun-tahun berikutnya.

Arif Rahmat
Cipta Citra Codena
Inventor dan Prinsipal DMR
Jl. Batik Ayu No. 26
Sukaluyu, Bandung
022-2506417
08156219300
http://www.codena.co.id
http://digitalmarkreader.com

Baca juga:

DMR, Alat Periksa Ujian Untuk Segala Jenis Form

Mengupas Kisah Pengalaman Riset, DMR Dahulu, Kini dan Nanti

Iping SuprianaPada tahun 2002, Dr. Iping Supriana, DEA, seorang dosen senior di Departemen Teknik Informatika (kini STEI) ITB ditantang oleh salah seorang rekan sejawatnya untuk membuat suatu sistem pemeriksa ujian yang dapat membaca hasil pekerjaan siswa pada lembar soal (bukan lembar jawaban). Sebuah riset unggulan ITB bertema sistem pemeriksa ujian berbiaya rendah pun dimulai, dibantu oleh Ayu Purwarianti S.T. (dosen di tempat yang sama) dan Muhammad Arif Rahmat T., mahasiswa tingkat akhir yang juga menjadikan penelitian tersebut sebagai Tugas Akhir.

Pendek cerita, dalam beberapa pekan saja, prototipe perangkat lunak yang diharapkan telah tercipta. Namun setelah dipertimbangkan secara matang, akan sangat membuang waktu apabila setiap lembar soal dari setiap siswa harus dimasukkan ke scanner (pemindai). Misalnya pada sebuah ujian pilihan ganda dengan 60 soal, setidaknya terdapat 6-10 halaman yang perlu diperiksa untuk setiap siswa. Ya, itulah alasan mengapa diperlukan lembar jawaban!

Baca lebih lanjut

Hindari Virus dengan Total Commander

Total Commander

History
Dahulu, ia lebih dikenal dengan Wincmd atau Windows Commander, sebuah tool Windows yang sangat terkenal sebagai pengganti Norton Commander (NC) di DOS. Tetapi karena kalah saat dituntut oleh Microsoft mengenai penggunaan kata Windows, kini namanya menjadi Total Commander. Nama tersebut juga ternyata membawa keberuntungan karena belakangan ia juga dapat digunakan di sistem operasi lain selain Windows.

Antarmuka dan Fungsionalitas
Antarmuka utama Total Commander terdiri dari 2 kotak daftar file yang sangat memudahkan navigasi dan operasi file yang sering kita lakukan pada windows explorer seperti membuka , menyalin, mengubah nama, membandingkan serta menghapus file.

Total Commander bukan hanya sekedar alat bantu operasi file, namun juga dapat menggantikan fungsi desktop, quick launch, command prompt serta menu Start pada Windows karena headernya dapat memuat icon berisi link ke file, folder maupun program yang ditentukan. Total Commander juga dapat dikombinasikan dengan IrvanView untuk menambah kemampuan preview image dan file multimedia lainnya.

Fungsi FTP client yang telah ada secara internal sangat ampuh untuk segala macam kebutuhan FTP. Terdapat pula plugin untuk memungkinkan secureFTP serta pembacaan linux drives dari sistem operasi Windows.

Total Commander vs Windows Explorer
Windows Explorer dari tahun ke tahun merupakan carrier utama pada terjadinya infeksi virus pada harddisk, network, floppy disk maupun flash disk. Penularan virus tersebut terjadi kebanyakan tanpa disadari. Mengapa demikian? Secara internal, fungsi menampilkan direktori pada Windows Explorer sebenarnya bukan hanya sekedar membaca isi direktori, namun juga menuruti perintah-perintah yang ada di registry serta file-file yang berisi mengenai setting direktori.

Berbeda halnya dengan Windows Explorer, ketika kita menjalankan Total Commander, ia tak perlu patuh pada registry dan selalu mengaktifkan prosedur dan perintah level bawahnya sendiri tanpa perlu bantuan Windows Explorer. Contohnya ketika kita melakukan operasi move pada drive yang sama (copy+cut bila pada Windows Explorer) , yang dipindahkannya bukanlah file fisiknya tetapi hanya file pointernya (alias daftar isinya), sehingga operasi tersebut dapat dilakukan dengan lebih cepat dan aman.

Mengapa Total Commander Tahan Virus
Karena Total Commander menampilkan extension setiap file, kita sebagai pengguna tak akan mudah tertipu dengan icon-icon palsu yang seakan-akan berupa folder atau file dokumen padahal kenyataannya merupakan file executable berbahaya. Dengan mengaktifkan Configuration ->Options…->Display->FileDisplay->Show Hidden/System Files, maka kita juga akan terhindar dari file-file tersembunyi yang mungkin berbahaya bagi sistem operasi kita.

Fungsi lain yang sering digunakan:
– zip/unzip (kompresi/dekompresi file)
– membandingkan isi folder & file
– pencarian tingkat lanjut
– pengubahan nama dan atribut multi file sekaligus
– menampilkan quickview file multimedia
– menampilkan nama file dengan warna yang identik dengan extension-nya

Download Total Commander di http://www.ghisler.com/index.htm atau http://www.totalcmd.net

Lisensi: Shareware dengan fungsionalitas penuh, bagaikan freeware bersyarat.

Peringatan: Selama 10 tahun menggunakan Total Commander (dahulu Windows Commander), penulis telah menularkannya ke sekian banyak orang (dari kalangan programmer maupun pengguna komputer biasa), sehingga orang tersebut merasa tak pandai lagi menggunakan windows explorer saat menghadapi komputer yang tidak dilengkapi dengan Total Commander.

Arif Rahmat
http://codena.co.id