Arsip Tag: ITB

Parade PT Pengguna DMR di Iklan Kompas

Beberapa iklan perguruan tinggi kian menghiasi Kompas selama beberapa pekan terakhir.

Ada persamaan di antara mereka, mereka adalah pengguna scanner Digital Mark Reader (DMR), hasil riset ITB.

Apa saja perguruan tinggi tersebut? Mari kita simak di bawah ini.

Universitas Padjajaran (Unpad)

Politeknik Manufaktur Negeri Bandung Baca lebih lanjut

Professor DMR

iping_2009_08_2Sejak Agustus 2009 Pak Iping resmi menjadi professor. Setahu saya, beliau adalah professor pertama di Informatika (kini STEI) ITB. Sepertinya beliau pantas mendapat rekor MURI atas pencapaian tersebut. Selamat untuk Pak Iping, eh salah, Prof Iping ūüôā

Salah satu penelitian fenomenal dari Prof Iping adalah Digital Mark Reader (DMR). Beliau adalah penggagas dari sistem tersebut. Bersama Tim Riset Unggulan ITB tahun 2002/2003 beliau mengembangkan sebuah alat pemeriksa ujian berbiaya rendah yang kemudian dinobatkan menjadi Winner of Indonesia – Asia Pacific ICT Award 2004 kategori Best of Education & Training.

Salah satu prinsip hidupnya adalah tidak menjadi beban bagi orang lain serta mampu memberikan sebanyak-banyaknya manfaat terbaik bagi pihak lain. Salah satu caranya, beliau terus menjadi pengembang utama DMR agar dapat memberikan yang terbaik bagi banyak pihak, khususnya bangsa Indonesia.

Tidak ada jarak dengan mahasiswa, itulah kesan pertama yang penulis tangkap sejak mengenal beliau 8 tahun lalu. Tapi jangan salah, keakrabannya dengan mahasiswa tidak mempengaruhi objektivitas beliau dalam memberikan nilai. Kuliahnya santai, tapi tugas yang diberikannya setiap pekan dianggap berat bagi sebagian besar mahasiswa, tingkat kesulitan tiap tahun selalu meningkat. Lemari di ruangannya penuh dengan tugas akhir dan tesis mahasiswa yang pernah dibimbingnya. Baca lebih lanjut

DMR, Software Resmi Depdiknas untuk UASBN

Setelah melalui proses seleksi dan tender yang berlarut-larut di Depdiknas, alhamdulillah bulan April 2008 kami diberi amanah untuk mengembangkan DMR UASBN, sebuah hasil kustomisasi dari perangkat lunak Digital Mark Reader (DMR). Bagi yang belum tahu, UASBN adalah singkatan dari Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional untuk SD/MI/SDLB.

Sekitar 700 peserta dari dinas pendidikan setiap kota/kabupaten dan propinsi di Indonesia telah menjadi peserta pelatihan DMR UASBN yang diselenggarakan di Jakarta, 29 April – 4 Mei 2008. Pelatihan yang berjalan lancar tersebut diikuti dengan kelancaran pemrosesan scanning di tingkat kabupaten dan kota yang terus dipantau oleh tim teknis DMR UASBN bersama Puspendik Depdiknas.

Beberapa sejarah yang tercetak pada pelaksanaan UASBN:

  1. Pertama kalinya ujian SD berskala nasional
  2. Pertama kalinya pemeriksaan ujian berskala nasional menggunakan scanner gambar, bukan scanner OMR sehingga membutuhkan perangkat lunak DMR
  3. Pertama kalinya lembar jawab ujian berskala nasional diisi dengan tanda silang, bukan bulatan
  4. Pertama kalinya dinas pendidikan kabupaten dan kota secara formal mengoperasikan scanner untuk ujian berskala nasional (karena sebelumnya semua scanning hanya dapat dilakukan di propinsi)


Perjuangan sekian tahun untuk melakukan sosialisasi pengisian ujian dengan tanda silang akhirnya berbuah juga. Semoga pelaksanaan semua ujian berskala nasional di tahun berikutnya juga menggunakan tanda silang dan kembali diperiksa menggunakan DMR.

web: http://digitalmarkreader.com

Cepatnya Shalat Jum’at di Masjid PDAM Bandung, dekat ITB

Mimbar Masjid¬†PDAMMasjid Maimmaskub, demikian nama Masjid di kompleks PDAM Kota Bandung tersebut.¬†Nama¬†yang¬†unik, diambil dari Al-Qur’an surah Al-Waqi`ah ayat 42 yang artinya¬†air¬†yang¬†tercurah. Letaknya yang hanya sekitar 500 meter dari Masjid Salman ITB¬†menjadikannya sebagai alternatif bahkan pilihan utama bagi muslim mahasiswa, dosen, maupun karyawan ITB.

Masjid¬†PDAM¬†Kota¬†Bandung¬†ini¬†terkenal dengan khutbah Jum’at yang sangat pendek dibandingkan dengan khutbah di Masjid Salman ITB. Adzan Jum’atnya juga kadang lebih dahulu, karena tidak banyak berita prakhutbah yang harus disampaikan. Kesimpulannya, Shalat Jum’at di Masjid PDAM akan lebih cepat selesai, biasannya 15 hingga 25 menit lebih cepat daripada di Masjid Salman ITB.

Ukiran pada mimbar Masjid PDAMUsut punya usut, ternyata ada sebuah rahasia yang menjadikannya demikian. Di atas mimbar, ada sebuah papan berukir bertuliskan Khutbah plus minus 20 menit. Ketika khatib naik mimbar, papan tersebut pasti terlihat. Sepanjang apapun naskah khutbah yang telah disiapkan khatib, biasanya akan dimampatkan agar memenuhi anjuran pada papan tersebut. Anda pernah (atau sering) shalat di sana?

Mengupas Kisah Pengalaman Riset, DMR Dahulu, Kini dan Nanti

Iping SuprianaPada tahun 2002, Dr. Iping Supriana, DEA, seorang dosen senior di Departemen Teknik Informatika (kini STEI) ITB ditantang oleh salah seorang rekan sejawatnya untuk membuat suatu sistem pemeriksa ujian yang dapat membaca hasil pekerjaan siswa pada lembar soal (bukan lembar jawaban). Sebuah riset unggulan ITB bertema sistem pemeriksa ujian berbiaya rendah pun dimulai, dibantu oleh Ayu Purwarianti S.T. (dosen di tempat yang sama) dan Muhammad Arif Rahmat T., mahasiswa tingkat akhir yang juga menjadikan penelitian tersebut sebagai Tugas Akhir.

Pendek cerita, dalam beberapa pekan saja, prototipe perangkat lunak yang diharapkan telah tercipta. Namun setelah dipertimbangkan secara matang, akan sangat membuang waktu apabila setiap lembar soal dari setiap siswa harus dimasukkan ke scanner (pemindai). Misalnya pada sebuah ujian pilihan ganda dengan 60 soal, setidaknya terdapat 6-10 halaman yang perlu diperiksa untuk setiap siswa. Ya, itulah alasan mengapa diperlukan lembar jawaban!

Baca lebih lanjut

Sistem Coblos Pemilihan Ketua IA-ITB, Alumnus ITB Ada yang Buta Huruf?

DMR Pemilu @ DMR Booklet 2007

Pramono Anung, rekan separtai Pak Laksamana Sukardi beberapa hari lalu berkomentar menanggapi usulan pemerintah mengganti sistem coblos dengan penulisan pada Pemilu 2009. ‚ÄĚOrang-orang yang buta huruf masih banyak. Ibu-ibu sepuh yang ada di pedesaan itu bagaimana? Hak mereka kan sama,‚ÄĚ katanya. (http://galihhari.wordpress.com/2007/11/11/pemilu-2009-pencoblosan-diganti-penulisan-penolakan-pdip)Pada lingkup yang lebih kecil – IA-ITB – Sabtu besok akan ada pemilihan Ketua. Kabarnya sistemnya juga masih dengan pencoblosan. Ada yang beranggapan ini adalah hal lucu, mengingat bahwa alumnus ITB memiliki intelektualitas di atas rata-rata dan cenderung tidak mau tertinggal dalam penerapan teknologi.

Pernyataan ini bukanlah kritik belaka namun juga mengandung sedikit masukan yang mungkin masih kurang dipahami masyarakat. Di negara yang teknologinya maju, pemilu telah menggunakan alat canggih sehingga tidak perlu kertas lagi. Hal itu tentu tidak tepat diterapkan di  Indonesia yang bukan negara kaya. Kalau ada yang mengusulkan, pasti akan ditolak Menkeu, apalagi Wapres.

Nah¬†kira-kira¬†apa¬†yang¬†tepat?¬†Pemilu¬†di Indonesia itu¬†kan terorganisir dengan baik, isian pilihannya sudah terdefinisi dengan jelas karena telah diverifikasi. Artinya pemilih sebenarnya tidak perlu menulis, tetapi cukup dengan memberi tanda, misalnya tanda ‘v’ atau ‘x’. Data pilihan partai, caleg,¬†maupun capres, dikodekan dalam angka maupun tidak, dapat diakuisisi dengan mudah menggunakan scanner berkecepatan 300 lembar per menit plus perangkat lunak DMR yang ditempatkan di setiap kota/kabupaten.

Kalau ingin yang lebih hemat tetapi cukup cepat, perhitungan kertas suara tetap secara manual di TPS, tetapi berita acara alias rekapitulasinya berupa form yang siap untuk di-scan, tidak lagi di-entry manual.

Mimpikah itu? Tidak! Itu semua sudah mungkin untuk dilakukan, tinggal apakah pengambil 
kebijakannya melek teknologi atau tidak.

Mari¬†kita¬†saksikan…