Arsip Kategori: Pemilu

Pelatihan DMR di BPPT, Juni 2014

bppt-training-dmr-juni2014-2 bppt-training-dmr-juni2014Pada Pemilu Legislatif 2014, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) telah melakukan uji petik e-rekapitulasi menggunakan teknologi Digital Mark Reader (DMR) dan Unstructured Supplementary Service Data (USSD) untuk penghitungan suara di Kab. Pekalongan.

Kegiatan uji petik tersebut dilakukan bekerjasama dengan pemerintah Kab. Pekalongan sebagai tim pengumpulan data, serta ITB sebagai inventor teknologi DMR dan Indosat sebagai penyedia USSD.

Agar DMR yang dimiliki oleh BPPT dapat lebih bermanfaat untuk kegiatan-kegiatan lain seperti penyebaran kuesioner serta entri data lainnya, pada tanggal 3 Juni 2014 dilakukan workshop & pelatihan DMR bertempat di Gedung Teknologi 3, BPPT, Serpong.

Pelatihan ini diikuti sekitar 20 orang peserta yang berasal dari Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi (PTIK) BPPT.

Dari terlaksananya pelatihan DMR tersebut diharapkan bahwa pekerjaan pengumpulan data dan hasil survey dapat dilakukan lebih cepat dan akurat bila dibandingkan dengan prosedur manual yang sebelumnya sering diterapkan oleh PTIK BPPT.

 

Iklan

Polling Dimanipulasi, JK-Wiranto Didzalimi

capres_kompas

Detik.com adalah urutan ke-9 dalam urutan situs web yang paling banyak diakses orang Indonesia (sumber: https://arifrahmat.wordpress.com/2009/06/22/facebook-no-1-hanya-di-indonesia/). Sejak bulan Mei 2009, polling capres-cawapres detik.com menampilkan JK-Wiranto sebagai capres-cawapres yang memperoleh suara SMS terbanyak, dengan perolehan selalu di atas 40%, disusul SBY-Boediono lalu Mega-Prabowo.

Pada 22 Juni 2009, tiba-tiba perubahan drastis terjadi. Perolehan suara SMS kacau balau, perubahan persentase menjadi tidak masuk akal. Suara untuk SBY-Boediono melonjak menjadi 70%, lalu suara untuk Mega-Prabowo terlihat sengaja dikecilkan menjadi 1%.

Awalnya penulis mengira polling detik.com adalah polling yang dapat dipercaya karena menggunakan SMS untuk alat input datanya. Ternyata detik.com pun tidak luput dari ulah tangan-tangan jahil dalam polling pilpres ini. Salah satu contoh keanehan yang dapat diamati adalah sebagai berikut:

Tanggal 22 Juni 2009 vs 23 Juni 2009:

  • Total suara 25863    ->  27455
  • Mega-Prabowo 4327  -> 7970
  • SBY-Boediono 13170  -> 15187
  • JK-Wiranto 8366 -> 4298

Baca lebih lanjut

Strategi JK Lebih Canggih dari SBY

firmanzah_uiINILAH.COM, Jakarta – Strategi pemenangan tim JK-Wiranto dinilai lebih baik ketimbang pasangan SBY-Boediono. Karena JK telah berhasil menampilkan diferensiasi kepemimpinan di Pilpres 2009 ini.

“Tim JK itu lebih canggih, manajemen isunya baik seperti saat mengantisipasi serangan isu bisnis keluarga. JK berhasil menimbulkan efek antipati dari para pengusaha kepada SBY. Ada satu diferensiasi yang ditampilkan JK yaitu lateral,” ujar pengamat marketing politik UI Firmanzah di Universitas Paramadina, Jakarta, Kamis (18/6). Baca lebih lanjut

H+3 Pemilu Legislatif 2009

perolehan-suara

Pukul 10 pagi, suara masuk: 2.300.323
Pukul 16 sore, suara masuk: 2.399.054
Sumber: Internet, http://tnp.kpu.go.id/tab2009/

Jumlah suara yang sudah di-scan dengan software ICR di daerah sebenarnya sudah lebih banyak, tetapi terjadi bottleneck pada 2 tempat:
– aplikasi pengirim di daerah saat akan mengirimkan data
– aplikasi validator dan dekriptor di KPU Pusat

Beberapa kendala yang terjadi di daerah dalam hal scanning ICR:
– kualitas cetakan dan potongan kertas form C1-IT yang tidak sesuai standar ICR
– operator belum cekatan karena masih adaptasi
– ada beberapa kabupaten yang salah pilih software ICR, software-nya masih bermasalah (bukan DMR ICR)
– form C1-IT yang akan di-scan belum tiba di kantor KPU Daerah
– form C1-IT diisi dengan cara yang salah, bagian kosong dicoret-coret
– form C1-IT diperlakukan dengan cara salah, lecek, sulit di-scan
– form C1-IT ada yang hasil fotokopi, bukan mesin cetak
– form C1-IT terlalu lebar, tidak masuk gambarnya pada scanner A4/folio
– problem dengan .NET Framework, harus instal ulang sistem operasi
– belum dapat kunci enkripsi dari KPU Pusat
– operator belum familiar dengan scanner, bagaimana mendapatkan hasil image yang baik
– operator sakit karena bekerja terus menerus, perlu waktu lagi mengajar operator baru
– operator mendapatkan tekanan dari KPU Daerah untuk lebih dahulu menyelesaikan rekapitulasi perhitungan suara untuk DPRD tingkat I dan DPRD tingkat II

Tak Perlu Lamaran Kerja Untuk Berkantor di KPU

kalsel

Sudah 2 hari penulis berkantor di KPU Pusat, Jl. Imam Bonjol, Jakarta dalam rangka membantu helpdesk KPU dalam hal penggunaan DMR ICR di beberapa kota dan kabupaten di Indonesia. Penulis ditempatkan di ruangan yang lebih tampak sebagai ruang rapat, dengan sebuah meja oval, berkapasitas 12 orang yang mayoritas adalah rekan-rekan tim IT KPU dari BPPT. Baca lebih lanjut

Surat Suara Pemilu Legislatif 2009

Berbeda dengan Pilkada maupun pemilihan presiden, surat suara pemilihan anggota DPR dan DPRD pada Pemilu 2009 tidak akan diramaikan dengan foto para caleg.

surat_suara_caleg_pemilu_2009_c

Sebenarnya tidak ada gunanya para caleg memperkenalkan foto dirinya kepada masyarakat melalui stiker, pamflet, spanduk, dan baliho. Yang perlu mereka tekankan sebenarnya ketenaran nama, serta kesan positif masyarakat ketika mendengar atau melihat tulisan nama mereka.

Penulis salut kepada caleg dari PKS yang tidak individualis dalam materi marketing mereka. Para caleg PKS tidak satu per satu membuat iklan maupun selebaran, tetapi bergerombol. Semoga mereka dapat menjaga amanah jika kelak terpilih dan mampu memberikan yang terbaik bagi kita semua.

Kesuksesan partai politik bukanlah dengan meraih kursi yang paling banyak di parlemen, tetapi bagaimana agar kelompok mereka mampu mengarahkan kebijakan pemerintah agar berpihak terhadap kepentingan rakyat, serta mampu memberikan yang terbaik untuk masyarakat yang diwakilinya, bukan hanya menurut pada apa yang ‘diperintahkan’ oleh ketua atau sekjen DPP saja.

Alhamdulillah, HADE Benar-Benar Beda!!!


Ketika foto kandidat cagub yang lain pakai peci, HADE memutuskan untuk tidak pakai peci. Hal ini membuat keduanya sangat dapat dibedakan dari kandidat yang lain.

Ketika dua pasangan kandidat yang lain mengandung mantan petinggi militer yang pernah menjadi pangdam, HADE cuma mengandalkan juara taekwondo yang juga pemain film.

Ketika dua pasangan kandidat yang lain terlihat ‘kalah’ di Quick Count 13 April 2008, HADE alhamdulillah tampak sabar dan ikhlas dengan tantangan tanggung jawab yang begitu besar, memberikan yang terbaik bagi 40 juta jiwa penduduk Jabar, alias 1/6 penduduk Indonesia.

Semoga harapan masyarakat bagi perbaikan kualitas hidup di Jawa Barat dapat segera terealisasi tanpa kendala yang berarti dengan terpilihnya HADE sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat 2008-2013.

Sistem Coblos Pemilihan Ketua IA-ITB, Alumnus ITB Ada yang Buta Huruf?

DMR Pemilu @ DMR Booklet 2007

Pramono Anung, rekan separtai Pak Laksamana Sukardi beberapa hari lalu berkomentar menanggapi usulan pemerintah mengganti sistem coblos dengan penulisan pada Pemilu 2009. ”Orang-orang yang buta huruf masih banyak. Ibu-ibu sepuh yang ada di pedesaan itu bagaimana? Hak mereka kan sama,” katanya. (http://galihhari.wordpress.com/2007/11/11/pemilu-2009-pencoblosan-diganti-penulisan-penolakan-pdip)Pada lingkup yang lebih kecil – IA-ITB – Sabtu besok akan ada pemilihan Ketua. Kabarnya sistemnya juga masih dengan pencoblosan. Ada yang beranggapan ini adalah hal lucu, mengingat bahwa alumnus ITB memiliki intelektualitas di atas rata-rata dan cenderung tidak mau tertinggal dalam penerapan teknologi.

Pernyataan ini bukanlah kritik belaka namun juga mengandung sedikit masukan yang mungkin masih kurang dipahami masyarakat. Di negara yang teknologinya maju, pemilu telah menggunakan alat canggih sehingga tidak perlu kertas lagi. Hal itu tentu tidak tepat diterapkan di  Indonesia yang bukan negara kaya. Kalau ada yang mengusulkan, pasti akan ditolak Menkeu, apalagi Wapres.

Nah kira-kira apa yang tepat? Pemilu di Indonesia itu kan terorganisir dengan baik, isian pilihannya sudah terdefinisi dengan jelas karena telah diverifikasi. Artinya pemilih sebenarnya tidak perlu menulis, tetapi cukup dengan memberi tanda, misalnya tanda ‘v’ atau ‘x’. Data pilihan partai, caleg, maupun capres, dikodekan dalam angka maupun tidak, dapat diakuisisi dengan mudah menggunakan scanner berkecepatan 300 lembar per menit plus perangkat lunak DMR yang ditempatkan di setiap kota/kabupaten.

Kalau ingin yang lebih hemat tetapi cukup cepat, perhitungan kertas suara tetap secara manual di TPS, tetapi berita acara alias rekapitulasinya berupa form yang siap untuk di-scan, tidak lagi di-entry manual.

Mimpikah itu? Tidak! Itu semua sudah mungkin untuk dilakukan, tinggal apakah pengambil 
kebijakannya melek teknologi atau tidak.

Mari kita saksikan…