Arsip Kategori: Pekerjaan

Facebook No.1 Hanya di Indonesia

fbSetiap orang tentu punya kesibukan. Yang menjadi perbedaan, apakah kesibukan tersebut adalah kesibukan yang bermanfaat? Orang Indonesia yang mengenal Internet ternyata sangat sibuk dengan Facebook. Ini bukan cuma hasil survei random sampling sekelas survei LSI, tetapi hasil statistik dari Alexa.

Berikut adalah urutan 10 besar situs yang paling banyak diakses orang Indonesia berdasarkan statistik Alexa: Baca lebih lanjut

H+3 Pemilu Legislatif 2009

perolehan-suara

Pukul 10 pagi, suara masuk: 2.300.323
Pukul 16 sore, suara masuk: 2.399.054
Sumber: Internet, http://tnp.kpu.go.id/tab2009/

Jumlah suara yang sudah di-scan dengan software ICR di daerah sebenarnya sudah lebih banyak, tetapi terjadi bottleneck pada 2 tempat:
– aplikasi pengirim di daerah saat akan mengirimkan data
– aplikasi validator dan dekriptor di KPU Pusat

Beberapa kendala yang terjadi di daerah dalam hal scanning ICR:
– kualitas cetakan dan potongan kertas form C1-IT yang tidak sesuai standar ICR
– operator belum cekatan karena masih adaptasi
– ada beberapa kabupaten yang salah pilih software ICR, software-nya masih bermasalah (bukan DMR ICR)
– form C1-IT yang akan di-scan belum tiba di kantor KPU Daerah
– form C1-IT diisi dengan cara yang salah, bagian kosong dicoret-coret
– form C1-IT diperlakukan dengan cara salah, lecek, sulit di-scan
– form C1-IT ada yang hasil fotokopi, bukan mesin cetak
– form C1-IT terlalu lebar, tidak masuk gambarnya pada scanner A4/folio
– problem dengan .NET Framework, harus instal ulang sistem operasi
– belum dapat kunci enkripsi dari KPU Pusat
– operator belum familiar dengan scanner, bagaimana mendapatkan hasil image yang baik
– operator sakit karena bekerja terus menerus, perlu waktu lagi mengajar operator baru
– operator mendapatkan tekanan dari KPU Daerah untuk lebih dahulu menyelesaikan rekapitulasi perhitungan suara untuk DPRD tingkat I dan DPRD tingkat II

DMR, Alat Periksa Ujian Untuk Segala Jenis Form

Setelah penulis menjadi salah satu mahasiswa dan periset di ITB, bersama Prof Iping Supriana, kami menghasilkan sebuah produk berbasis riset yang fenomenal, Digital Mark Reader (DMR), sebuah sistem pemeriksaan ujian yang pertama kali diluncurkan ke pasar pada tahun 2004. Wujud fisiknya terdiri dari alat scanner dokumen (yang dilengkapi tray) ditambah perangkat lunak pendukung.

Empat tahun telah berlalu sejak peluncurannya, kini DMR semakin dewasa. DMR berkembang menjadi sebuah sistem tangguh yang dipercaya oleh lebih dari 500 lembaga. Bukan hanya sekolah, namun juga termasuk 50-an perguruan tinggi termasuk ITB sendiri, 250-an dinas pendidikan kota/kabupaten, 30-an lembaga di bawah Depdiknas, beberapa departemen selain Depdiknas serta beberapa pemerintah propinsi, BUMN, bimbel ternama, bank dan rumah sakit terkemuka maupun industri pertambangan serta otomotif.

Baca lebih lanjut

Gila Wireless

Rasanya baru 3 tahun terakhir ini, penggunaan wireless benar-benar menggila. Wireless yang penulis maksud adalah teknologi 802.11g (54Mbps) yang sebentar lagi digantikan oleh 802.11n (108 Mbps).

Mengakses internet melalui wireless menggunakan PC atau notebook, itu hal biasa. Menggunakan handphone untuk percakapan VoIP melalui wifi, itu juga bisa dibilang biasa. Menyambungkan dua tempat yang terpisah jauh melalui perangkat wifi, itu juga sudah ketinggalan.

Ada beberapa hal yang dapat membuat wireless kita menjadi lebih dari biasa. Informasi ini mungkin berguna bagi Anda yang sedang menyusun proposal pengadaan ‘barang IT’ di lembaga Anda. Apa saja itu? Baca lebih lanjut

8 Joki Teridentifikasi Pada Uji Teknis Peralatan UN Depdiknas

joki1.jpg
Ujian Nasional (UN) dan Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional (UASBN) akan segera digelar. Depdiknas tengah mempersiapkan segala yang dibutuhkan, termasuk peralatan pemeriksaan ujian. Namun proses pengadaannya pun tidak lepas dari praktek perjokian, yakni saat berlangsungnya uji teknis pengadaan peralatan ujian nasional dari tanggal 28 Februari hingga 4 Maret 2008 di Pusat Penilaian Pendidikan (Puspendik), Balitbang Depdiknas, Jl Gunung Sahari Raya, Jakarta.

Terdapat 8 joki dengan kemampuan intelelektual tinggi yang teridentifikasi pada uji teknis tender pengadaan peralatan ujian nasional senilai Rp 19 milyar di Depdiknas. Mereka disusupkan, disamarkan dan disebar oleh salah satu vendor perangkat lunak menjadi karyawan dadakan pada 5 dari 16 perusahaan peserta lelang agar dapat menjadi operator perangkat lunak yang diuji.

Dari beberapa joki diperoleh keterangan bahwa para joki yang sebenarnya berlevel trainer tersebut menganggap perbuatan mereka sah-sah saja. Mereka bersedia menjadi joki karena tidak tahu mengenai urgensi uji teknis pada pengadaan peralatan ujian nasional. Padahal, salah satu kriteria penting yang diuji pada uji teknis adalah tingkat kemudahan penggunaan perangkat lunak.

Waktu yang tersedia bagi pelatihan perangkat lunak terpilih sangat singkat dan 509 unit sistem pemeriksa ujian tersebut nantinya akan digunakan secara tersebar di setiap dinas pendidikan kota dan kabupaten. Atas latar belakang itu, panitia uji teknis sejak jauh hari telah menetapkan peraturan tegas bahwa operator harus berasal dari perusahaan peserta lelang, bukan vendor perangkat lunak.

Dengan keterlibatan 8 orang joki pada 5 perusahaan peserta lelang, proses penilaian uji teknis menjadi bias sehingga berpotensi mengakibatkan kerugian negara hingga milyaran rupiah sebagaimana telah terjadi sebelumnya pada pengadaan peralatan serupa pada tahun 2007. Dapat diterima dengan nalar, perangkat lunak yang memerlukan joki setingkat trainer sebagai operator pasti akan bermasalah ketika digunakan oleh orang biasa.

Panitia uji teknis yang telah mendapatkan peringatan mengenai kehadiran para joki memilih untuk diam sambil menutup mata. Mereka seakan-akan menjadi bagian dari konspirasi dengan melindungi perusahaan peserta lelang yang melibatkan para joki. Panitia hanya memperhatikan pembenaran secara administratif, bahwa setiap operator telah mendapatkan surat tugas dari perusahaan peserta lelang.

Panitia juga tampak berpihak ke salah satu vendor perangkat lunak dengan mengubah jadwal serta metode pelaksanaan uji teknis akibat ketidakmampuan salah satu vendor perangkat lunak untuk melalui salah satu tahap uji. Dalam tender ini, panitia juga meniadakan komponen penilaian yang sangat substantif bagi setiap sistem pemeriksa ujian yang ikut ‘diperlombakan’ pada uji teknis.

Seharusnya beberapa hal berikut juga turut dinilai:
1. Kredibilitas pengembang perangkat lunak sebagai tim (bukan perseorangan belaka).
2. Kapabilitas pengembangnya sebagai perusahaan dalam menjamin keberlanjutan usia perangkat lunak.
3. Kualitas dukungan teknis dan jangkauan pelayanan kepada pengguna perangkat lunak.
4. Pengalaman penggunaan perangkat lunak dalam pemeriksaan ujian yang pengisiannya dengan tanda silang dengan volume pekerjaan minimum 100 ribu lembar.

Kriteria penilaian dari segi pengalaman sangat penting mengingat bahwa 15 juta lembar jawab UASBN (SD/MI/SDLB) yang pengisiannya menggunakan tanda silang dijadwalkan akan diperiksa oleh lebih dari 450 dinas pendidikan kabupaten dan kota di Indonesia. Bila sistem pemeriksaan ujian yang terpilih cenderung dipaksakan menggunakan perangkat lunak dari salah satu vendor yang belum terpercaya, maka hasil UN dan UASBN yang diperoleh dapat meleset dari kenyataan sebenarnya sehingga tidak dapat menjadi tolok ukur kebijakan lokal maupun nasional dalam bidang pendidikan tahun ini maupun tahun-tahun berikutnya.

Arif Rahmat
Cipta Citra Codena
Inventor dan Prinsipal DMR
Jl. Batik Ayu No. 26
Sukaluyu, Bandung
022-2506417
08156219300
http://www.codena.co.id
http://digitalmarkreader.com

Baca juga:

DMR, Alat Periksa Ujian Untuk Segala Jenis Form

Berburu Laptop, Dua Kali Dikecewakan AMD

DELLDell seri Inspiron tahun 1998, laptop pertama tempat saya belajar menggunakan touchpad. Punya kakak yang baru pulang dari Belanda setelah 10 tahun di sana. Katanya harga baru saat itu 3000 USD, trus dia beli bekas 3000 Gulden. Tahun 1998, saya masih SMA kelas 3, bengong aja lihat Linux, dan VMware, dial-up internet, wong Windows 98 saja masih baru banget keluarnya.

GatewayDari 1998 sampai 2002, saya kebanyakan pakai PC. Tahun 2003, saat Suteki berdiri, sehari-hari pakai laptop Gateway (punya Ricky). Cukup berat, tapi layar 12 inch, resolusi 800×600. Agar layarnya terlihat gede, biasanya pinjam monitor 17 inch di lab. Jadi tidak perlu lagi bawa-bawa harddisk dari rumah. Tidak tersedia touchpad, jadi harus mahir dengan joystick. Kalau tidak salah, harganya 4 juta saat itu. Tahun 2006 dijual murah: 1 juta.

SOTECTahun 2004, DMR mulai laris. Bela-belain ke Mangga Dua, Jakarta buat cari laptop 12 inch yang baru, dapatnya merk Sotec. Awalnya terasa asing dengan namanya, tapi setelah nonton sinetron Jepang, ternyata Sotec jg banyak dipakai di sana. Prosesornya AMD, dan belum ada wireless. Beberapa bulan kemudian muncul Twinhead yang mirip banget tapi sudah centrino (Intel dan ada wireless-nya). Dibandingkan dengan Twinhead (punya kakak), Sotec kalah dari speed dan konsumsi baterai, padahal jeroannya sama banget (kecuali prosessor), termasuk baterainya.

ASUSKurun waktu 2004-2005, saya beli beberapa laptop bekas untuk Suteki maupun Codena: Compaq Armada, Compaq Presario, Acer, Hyundai, Dave dan NEC. Saat ini Compaq Armada, Acer dan Dave sudah dijual lagi, Hyundai dan Compaq Presario mati total, NEC masih beroperasi. Untuk laptop baru, terpilih Asus seri M5200 buat Pak Direktur, masih bertahan hingga tulisan ini dibuat.

AXIOOPetualangan belum berakhir, tapi baru saja dimulai. 2006-2007 adalah tahunnya Wearnes, Forsa dan Axioo. Kami hanya memilih yang terbaik, prosesornya Intel, batangannya dari MSI, dan kalau bisa harddisk-nya dari Fujitsu. Hasil pabrikan MSI bentuknya OK, tahan banting, berat masih dapat diterima, dan baterainya murah, tidak sulit dicari. Ada 4 unit Forsa, 6 unit Axioo dan 2 unit Wearnes yang kami beli. Kami juga punya 3 unit Acer (dengan harga setara 2 unit Forsa), tapi salah satunya hilang dicuri orang.

Sony Vaio2007 hampir berakhir, kisah berburu notebook terus berlanjut. Kini lain dari biasanya, dapat Sony Vaio UMPC 4.5″, dan HP Tablet PC TX1221AU 12″, ceritanya mau membiasakan diri pakai touchscreen, menjelang kemunculan Komputer Meja dari Microsoft. Sony Vaio bermesin Intel, dan HP pakai AMD Athlon 64 X2.

Task Manager

Dari Gateway, Sotec, Wearnes, Axioo, dan HP (notebook yang saya pakai 4 tahun terakhir), hanya Sotec dan HP yang prosessornya AMD. AMD memang beda, maksud saya: payah, apalagi bagi yang terbiasa pakai Intel. Katanya sih dual core, tapi dari pengamatan saya terhadap grafik di task manager, tidak terlihat adanya pembagian tugas yang baik, layaknya Core2Duo-nya Intel. Walaupun score-nya (AMD Athlon X2 TK53-1,7GHz) di Vista lebih baik daripada Intel (Core Duo T2050, 1,6GHz), tapi untuk testing extract DMR, AMD sekali lagi…. payah! Sayang sekali, memori sudah 2 GB, HD Fujitsu SCSI 160GB 5400rpm, ada fingerscanner, built-in webcam, stereo mic, altec lansing speaker, lightscribe DVD-RW , touchscreen dan tablet, tapi prosessornya lemot. Jadi iri lihat rekan-rekan yang saya beri Acer dan Axioo. BTW, aneh ya, saya tidak tertarik dan tidak mau beli IBM maupun Toshiba.

Baca juga: EeePC, Notebook 3 Jutaan Seukuran Buku Dari ASUS

Mengupas Kisah Pengalaman Riset, DMR Dahulu, Kini dan Nanti

Iping SuprianaPada tahun 2002, Dr. Iping Supriana, DEA, seorang dosen senior di Departemen Teknik Informatika (kini STEI) ITB ditantang oleh salah seorang rekan sejawatnya untuk membuat suatu sistem pemeriksa ujian yang dapat membaca hasil pekerjaan siswa pada lembar soal (bukan lembar jawaban). Sebuah riset unggulan ITB bertema sistem pemeriksa ujian berbiaya rendah pun dimulai, dibantu oleh Ayu Purwarianti S.T. (dosen di tempat yang sama) dan Muhammad Arif Rahmat T., mahasiswa tingkat akhir yang juga menjadikan penelitian tersebut sebagai Tugas Akhir.

Pendek cerita, dalam beberapa pekan saja, prototipe perangkat lunak yang diharapkan telah tercipta. Namun setelah dipertimbangkan secara matang, akan sangat membuang waktu apabila setiap lembar soal dari setiap siswa harus dimasukkan ke scanner (pemindai). Misalnya pada sebuah ujian pilihan ganda dengan 60 soal, setidaknya terdapat 6-10 halaman yang perlu diperiksa untuk setiap siswa. Ya, itulah alasan mengapa diperlukan lembar jawaban!

Baca lebih lanjut

Ketika Bos Sedang Pergi, Itulah Saat yang Dinanti

Kursi BosSebagian besar pekerja berstatus karyawan pasti merasa senang kalau pimpinanannya lama meninggalkan kantor, misalnya sedang ke luar kota, ke luar negeri, untuk liburan atau perjalanan dinas lainnya. Dengan perginya bos, para pekerja mungkin dapat merasa bebas tanpa pengawasan melekat atau terbebas dari kebiasaan buruk si bos yang mungkin sering marah, bertindak seenaknya, keterlaluan dalam memberi tugas tambahan, atau (maaf) suka melecehkan.

Celakalah para bos jika ternyata keberadaannya selama ini menjadi bencana bagi orang lain, utamanya bawahannya.

Di lingkungan rumah, mungkin saja anak akan lebih senang bila orangtuanya pergi sepanjang hari, karena mereka dapat berbuat sesukanya tanpa batasan aturan, dapat mengundang teman, menikmati keributan, atau bahkan mengadakan pesta obat-obatan terlarang.

Pada konteks lingkungan pendidikan, ketidakhadiran dosen dan guru biasanya akan membuat mahasiswa dan siswa senang, apalagi bila sang dosen atau guru senangnya memarahi mahasiswa/siswanya. Marah adalah hal yang kadang muncul tanpa sebab, dan marah adalah hal yang tidak sedap. Anda masih ingat, siapa saja guru/dosen Anda yang paling sering marah? Janganlah menirunya!

Hindari Virus dengan Total Commander

Total Commander

History
Dahulu, ia lebih dikenal dengan Wincmd atau Windows Commander, sebuah tool Windows yang sangat terkenal sebagai pengganti Norton Commander (NC) di DOS. Tetapi karena kalah saat dituntut oleh Microsoft mengenai penggunaan kata Windows, kini namanya menjadi Total Commander. Nama tersebut juga ternyata membawa keberuntungan karena belakangan ia juga dapat digunakan di sistem operasi lain selain Windows.

Antarmuka dan Fungsionalitas
Antarmuka utama Total Commander terdiri dari 2 kotak daftar file yang sangat memudahkan navigasi dan operasi file yang sering kita lakukan pada windows explorer seperti membuka , menyalin, mengubah nama, membandingkan serta menghapus file.

Total Commander bukan hanya sekedar alat bantu operasi file, namun juga dapat menggantikan fungsi desktop, quick launch, command prompt serta menu Start pada Windows karena headernya dapat memuat icon berisi link ke file, folder maupun program yang ditentukan. Total Commander juga dapat dikombinasikan dengan IrvanView untuk menambah kemampuan preview image dan file multimedia lainnya.

Fungsi FTP client yang telah ada secara internal sangat ampuh untuk segala macam kebutuhan FTP. Terdapat pula plugin untuk memungkinkan secureFTP serta pembacaan linux drives dari sistem operasi Windows.

Total Commander vs Windows Explorer
Windows Explorer dari tahun ke tahun merupakan carrier utama pada terjadinya infeksi virus pada harddisk, network, floppy disk maupun flash disk. Penularan virus tersebut terjadi kebanyakan tanpa disadari. Mengapa demikian? Secara internal, fungsi menampilkan direktori pada Windows Explorer sebenarnya bukan hanya sekedar membaca isi direktori, namun juga menuruti perintah-perintah yang ada di registry serta file-file yang berisi mengenai setting direktori.

Berbeda halnya dengan Windows Explorer, ketika kita menjalankan Total Commander, ia tak perlu patuh pada registry dan selalu mengaktifkan prosedur dan perintah level bawahnya sendiri tanpa perlu bantuan Windows Explorer. Contohnya ketika kita melakukan operasi move pada drive yang sama (copy+cut bila pada Windows Explorer) , yang dipindahkannya bukanlah file fisiknya tetapi hanya file pointernya (alias daftar isinya), sehingga operasi tersebut dapat dilakukan dengan lebih cepat dan aman.

Mengapa Total Commander Tahan Virus
Karena Total Commander menampilkan extension setiap file, kita sebagai pengguna tak akan mudah tertipu dengan icon-icon palsu yang seakan-akan berupa folder atau file dokumen padahal kenyataannya merupakan file executable berbahaya. Dengan mengaktifkan Configuration ->Options…->Display->FileDisplay->Show Hidden/System Files, maka kita juga akan terhindar dari file-file tersembunyi yang mungkin berbahaya bagi sistem operasi kita.

Fungsi lain yang sering digunakan:
– zip/unzip (kompresi/dekompresi file)
– membandingkan isi folder & file
– pencarian tingkat lanjut
– pengubahan nama dan atribut multi file sekaligus
– menampilkan quickview file multimedia
– menampilkan nama file dengan warna yang identik dengan extension-nya

Download Total Commander di http://www.ghisler.com/index.htm atau http://www.totalcmd.net

Lisensi: Shareware dengan fungsionalitas penuh, bagaikan freeware bersyarat.

Peringatan: Selama 10 tahun menggunakan Total Commander (dahulu Windows Commander), penulis telah menularkannya ke sekian banyak orang (dari kalangan programmer maupun pengguna komputer biasa), sehingga orang tersebut merasa tak pandai lagi menggunakan windows explorer saat menghadapi komputer yang tidak dilengkapi dengan Total Commander.

Arif Rahmat
http://codena.co.id

Surat Sakti Gaya Orde Baru, Masihkah Laku?

Anti-KKNAda sebuah tender di Dinas Pendidikan Propinsi Kepri, pengadaan 30 unit scanner pemeriksa ujian yang rencananya setiap kabupaten akan menerima 5 unit scanner (Batam Pos, 10 Oktober 2006). Pelelangan telah dilakukan tahun 2006, namun pemenangnya dianggap tidak dapat memenuhi syarat, sehingga lelang perlu diulang.

September-November 2007, tender kembali dilaksanakan untuk proyek yang sama. Sebagai hasil akhir, seharusnya paket Digital Mark Reader (DMR) dengan scanner Fujitsu yang menjadi pemenang, namun ternyata ada orang kuat di balik para pesaing DMR yang menjadikan keputusan itu seolah-olah terbantahkan, mereka menyebutnya ‘orang pusat’. Akhirnya tender kembali diulang.

Saya teringat saat berkunjung ke Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Barat tahun 2005, bersama rekan-rekan dari Sharp (PT Tritanu). Dr. H. Dadang Dally, M.Si., Kepala Dinas saat itu berujar bahwa saat ini bukan zamannya lagi Dinas Pendidikan memberikan rekomendasi kepada sekolah-sekolah, teknologi apa yang sebaiknya digunakan. Orde baru sudah berlalu, demikian kata beliau.
Baca lebih lanjut