Kisruh UN 2013 Berawal dari Peraturan Itu Sendiri


Koran Kompas, 18 April 2013 halaman 12 memuat berita berjudul “Tipis, Lembar Jawaban UN Sulit Dipindai”.
LJUN Tipis 500

Pemeriksaan UN menggunakan scanner adalah pekerjaan rutin tahunan, lalu apa yang menyebabkan pemeriksaan tahun ini berbeda?

Setiap ruangan akan mendapatkan 21 jenis paket soal yang terdiri dari 20 jenis paket soal untuk peserta dan 1 jenis paket soal cadangan. Lembar Jawaban Ujian Nasional (LJUN) melekat pada naskah soal dan dapat dipotong, untuk memotong lembar jawaban dari lembar soal harus hati-hati agar tidak tersobek.

Setelah lembar jawaban dan soal dipisahkan, selanjutnya silahkan mengisi biodata. Biodata yang diisi harus sesuai dengan yang tertera pada kartu tanda peserta ujian, pada lembar soal juga tidak ada nomor paket, yang ada hanya barcode dan setiap soal itu kemungkinan tidak sama.

Sumber: http://sumsel.kemenag.go.id/index.php?a=berita&id=124069

Kesalahan fatal di sini adalah:

  1. LJUN disobek dari soal, sehingga LJUN menggunakan bahan kertas yang massa jenisnya sama dengan kertas soal, yaitu 70 gsm (baca: 70 gram per meter persegi). Hal ini tidak mengapa bila yang digunakan adalah scanner LJK DMR yang mampu mentolerir kertas tipis. Adapun bila menggunakan scanner OMR (sebagaimana pada UN SMA), umumnya digunakan kertas yang lebih tebal, 100gsm. Mengapa demikian? Scanner OMR tidak mentolerir masuknya kertas yang miring, apalagi ada bekas sobekan yang tidak lurus. Kertas 70gsm sangat letoy dan berpotensi miring saat masuk ke scanner. Oleh karenanya, LJK OMR harus kaku dan tebal. Dengan scanner OMR, bila kertas masuk miring atau ada error, scanning harus diulang. Akibatnya, scanner OMR yang katanya berkecepatan 5000 per jam, pada kenyataannya hanya 1000 sampai 2000 per jam. Ibarat angkutan kota yang top speed-nya 120 kpj, tapi di dalam kota hanya 20-40kpj karena sangat sering berhenti.
  2. Nomor paket pada LJUN tidak lagi tercetak (tak bisa dibaca mata manusia). Hal ini sangat berpotensi menimbulkan kesalahan skoring, karena bisa saja kesalahan terjadi saat pencetakan barcode maupun pembacaan barcode. Bukankah prosedur di swalayan, bila barcode tidak terbaca, petugas kasir harus melakukan entri kode secara manual dengan keyboard? Belum lagi dengan soal dan LJUN yang difotokopi. Pertama, scanner OMR tak mampu baca fotokopian, beda dengan scanner DMR. Walaupun jawabannya dipindahkan ke LJUN asli, bagaimana cara mendapatkan LJUN yang barcode kode soalnya persis sama dengan yang dikerjakan oleh siswa? Pakai mata tak bisa, barcode scanner pun tak tersedia di panitia, apalagi barcode printernya.
  3. Kerumitan pencetakan tidak dibarengi dengan ketersediaan waktu yang memadai. Setidaknya demikian kilah pengacara PT Ghalia, perusahaan percetakan yang membuat UN SMA di 11 propinsi tertunda. Apakah Anda mau membeli koran hari Senin di hari Kamis dengan harga yang sama? Apakah Anda mau melangsungkan resepsi pernikahan dahulu sebelum mencetak undangan resepsinya? Bila ternyata UN dilaksanakan di hari yang berbeda, mengapa harus mencetak soal lagi? Mengapa tidak menggunakan soal yang lama (sebagaimana buku tes psikologi yang digunakan berulang-ulang dan tipe soalnya beragam)? Penghematannya puluhan milyar rupiah lho, cukup mengeluarkan biaya ekspedisi, tak perlu biaya cetak.

Karena nila setitik, rusak susu sebelanga. Sedikit saja kesalahan panitia UN, membuat mereka dihujat publik habis-habisan. Kita doakan saja, mereka mampu fokus bekerja, tak ada siswa yang dirugikan, dan panitia UN Pusat mau belajar dari kesalahannya, tak mengulanginya lagi.

Pertanyaan berikutnya, bagaimana siswa dapat mengetahui bahwa dirinya tidak dirugikan? Bagaimana siswa dapat meyakini bahwa hasil pekerjaannya diperiksa dengan kunci kode paket soal yang sama dengan yang dikerjakannya? Bagaimana uji petik dan uji publik dapat dilakukan?

Arif Rahmat
Praktisi Pemeriksa Ujian dengan Scanner
Tim Peneliti DMR dari ITB
@arifdmr

Tagged: , , , ,

4 thoughts on “Kisruh UN 2013 Berawal dari Peraturan Itu Sendiri

  1. Edi 20 April 2013 pukul 20:40 Reply

    Apa ljk yang lecek bisa terbaca di scan

    • arifrahmat 16 Juli 2013 pukul 16:15 Reply

      Seandainya pakai DMR dan scanner image, bisa banget

  2. saifhul lombocz 13 April 2015 pukul 13:32 Reply

    jika LJUN erorr di komputer, apakah pemerintah pendidikan akan memeriksa dengan tangan?

    aku tunggu jawabannya yah……?

    • arifrahmat 24 April 2015 pukul 15:06 Reply

      Betul, akan sulit kalau pemeriksaannya pakai kaki🙂
      Intinya akan dilakukan perbaikan atau entri data dan jawaban agar tetap dapat terbaca oleh komputer.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: