Masa Kalah Sama Tukang Bakso


Saat ini (2004) tabungan Ponidi di Bank dan isterinya lebih dari Rp.5 milyard. Angka yang fantastis untuk penjual bakso yang pendidikannya hanya lulus SD.

Sumber: http://www.p2kp.org/forumprint.asp?mid=30327&catid=13&kusdar

Kisah sukses lulusan SD
kusdar minto, 10/24/2007 11:00:51 AM
KEBERHASILAN USAHA SEORANG LULUSAN SD.
Kusdarminto, Micro finance/credit Specialist

Warung bakso cak Karno.

Apabila kita naik bis dari Purworejo menuju ke Terminal Yogyakarta, sesampainya di Yogyakarta kita mesti melewati “pojok beteng kulon”. Sekitar 200 meter dari lampu merah pojok beteng kulon, disebelah kiri jalan akan kita lihat sebuah warung kecil bertulisan “Bakwan Malang Cak Karno”. Ciri lain warung itu adalah banyaknya kendaraan bermotor baik roda dua maupun empat yang diparkir didepan warung.

Saya telah mendengar ketenaran warung itu. Tapi mengapa warung itu terkenal, saya tidak tahu.

Kalau kita melihat warungnya, tidak ada yang istimewa. Warungnya kecil, sederhana tidak ada tempat parkir, sehingga pembeli memarkir kendaraannya dipinggir jalan, dan llokasinya dekat dengan pasar sepeda.
Kalau kita melihat namanya, cak Karno ini pasti dari Jawa Timur tepatnya dari Surabaya.

Karena penasaran, pada suatu hari sekitar pukul 11 siang saya mencoba untuk jajan bakso di warung itu. Pada waktu saya datang, dimuka warung sudah ada beberapa sepeda motor dan mobil yang diparkir ditepi jalan. Setelah saya masuk, ternyata hampir semua kursi yang berkapasitas sekitar 32 orang telah terisi. Untung masih ada beberapa kursi yang kosong, sayapun mengambil salah satu kursi yang kosong.

Saya juga melihat beberapa orang berdiri didekat “angkring” bakso. Ternyata orang ini adalah pembeli bakso yang akan dibawa pulang.

Setelah saya duduk, datang seorang pelayan laki-laki muda yang sederhana menanyakan saya akan pesan apa. Saya pesan 1 porsi bakso yang terdiri dari 2 butir bakso halus dan 2 butir bakso urat serta pesan 1 teh botol Sosro. Saya lihat dalam daftar harga, 1 porsi bakso harganya Rp.7.500,- dan 1 teh botol Sosro harganya Rp.1.500,-. Harga bakso sebesar itu di Yogyakarta termasuk mahal. Diwarung yang lain 1 porsi bakso harganya Rp.5.000,-

Sambil menanti pesanan datang, saya mengamati sekeliling. Saya lihat bahwa meja untuk makan cukup sederhana, terbuat dari kayu Kalimantan yang kualitasnya agak bagus dan atasnya dilapisi melamin putih yang terkesan bersih. Ukuran meja sekitar 120 cm x 60 cm yang dapat digunakan untuk 4 orang. Jumlah meja saya hitung sebanyak 8 meja, jadi cukup untuk 32 orang pembeli. Disetiap meja ada saos, kecap, garam, krupuk maupun sambal.
Sedangkan kursinya terbuat dari plastic yang harganya juga tidak mahal. Kursi ini warnanya sama sehingga tampak rapi.

Pelayannya semua laki-laki, muda, sederhana dengan pakaian yang tidak seragam tapi cukup bersih dan rapi. Baksonya ditata di “angkring” yang terletak didepan. Lantai warung terbuat dari keramik berwarna putih yang kelihatan terpelihara karena cukup bersih.

Yang sedang menikmati bakso sebagian anak muda. Sebagian lagi orang-ornag kantoran dan bapak/ibu rumah tangga. Hal ini dapat dilihat dari penampilannya dan pembicaraan mereka.

Dalam waktu yang tidak begitu lama, pelayan datang membawa pesanan saya. Setelah pesanan disajikan dimeja, dia menyilahkan saya untuk menikmati bakso yang dihidangkan. Dari baunya saya dapat merasakan bahwa bakso yang dihidangkan rasanya enak. Dugaan ini ternyata benar setelah saya mencoba untuk mencicipi kuah dan baksonya. Akhirnya pertanyaan yang ada dibenak saya yaitu : mengapa warung cak Karno laris, terjawab, yaitu : rasa baksonya enak sekali. Dari rasa bakso tersebut menurut pendapat saya bahwa sebagian besar (minimal 75%) bahan baku bakso ini adalah dari daging.

Berkenalan dengan cak Karno.

Pada waktu sedang menikmati bakso dating seorang laki-laki sekitar berumur 45 tahun, dengan pakaian sederhana, bertubuh agak pendek sekitar 158 cm, warna kulitnya coklat agak sedikit hitam dengan rambut agak ikal, menuju ke pelayan yang berada didekat angkring. Orang tersebut berbicara dengan pelayan tetapi aku tidak mendengar apa yang dibicarakan. Dugaan saya orang itu mesti pembeli yang sedang memesan bakso. Setelah itu orang itu melihat ke ruangan tempat duduk dan melihat sebagian besar tempat duduk telah terisi. Tapi dia tidak menuju ketempat duduk melainkan kedapur. Feeling saya mengatakan : pasti orang tersebut Cak Karno. Kebetulan sekali. Aku kepingin ketemu sama dia !

Setelah selesai makan bakso, saya menghampiri pelayan yang ada di dekat angkring bakso untuk membayar bakso yang telah saya makan.
Kesempatan ini saya gunakan untuk bertanya kepada pelayan : “Apakah yang tadi masuk ke dapur cak Karno ?”
Pelayan menjawab : “Betul pak. Ada apa ?”
Saya bertanya lagi : “Apakah saya bisa ketemu dengan pak Karno ?”.
Pelayan menjawab : “Tidak tahu pak, tapi coba saya tanyakan”. Akhirnya dia masuk ke dapur.

Tidak begitu lama pelayan muncul dengan cak Karno. Pelayan berkata kepada cak Karno : “Bapak inilah yang kepingin ketemu Bapak (maksudnya cak Karno)”. Kemudian kami bersalaman sambil berkenalan. Setelah itu mencari tempat duduk yang kebetulan masih ada yang kosong dan cak Karno mempersilahkan saya duduk. Saya merasakan keramahan cak Karno dalam menemui saya yang mungkin masih asing baginya.

Mulai bekerja :

Dari hasil pembicaraan dengan cak Karno dapat diketahui sebagai berikut :
Nama asli cak Karno adalah Ponidi. Cak Karno adalah nama sepupunya di Madura. Ponidi berdarah Madura dan lahir di Surabaya dari keluarga yang kurang mampu. Setelah tamat SD, Ponidi kecil tidak dapat meneruskan sekolahnya karena tidak punya biaya. Dia sempat menganggur beberapa bulan. Darah Maduranya yang suka tantangan tidak dapat diredam. Dia ingin bekerja untuk meringankan beban orang tuanya. Dia sadar bahwa dia masih kecil (waktu itu sekitar berumur 14 tahun) dan pendidikannya hanya SD maka peluang untuk mendapatkan pekerjaan sedikit. Kebetulan ada warung bakso yang tidak jauh dari rumahnya memerlukan tenaga untuk membantu berjualan bakso. Dia melamar untuk pekerjaan tersebut dan akhirnya diterima. Ponidi kecil sangat senang ketika dia diterima bekerja.

Ponidi termasuk anak yang tekun, dapat mendengarkan petunjuk maupun kritik orang lain dan motivasi kerjanyapun tinggi walaupun gajinya kecil Semua pekerjaan dia kerjakan dengan senang hati dan dapat dia selesaikan dengan baik sehingga dia disenangi oleh majikannya.

Gaji yang dia terima selalu ada yang dia sisihkan untuk ditabung. Dia memang anak yang hemat, keinginannya tidak macam-macam yang diluar jangkauan keuangannya. Dia mempunyai cita-cita yang lebih tinggi. Dia kepingin hidup lebih baik dihari nanti. Hal itu memicu dia untuk menyisihkan uangnya untuk ditabung.

Setelah beberapa bulan dia bekerja dia semakin menyenangi pekerjaannya. Selama ini dia dipercaya untuk membantu membeli bahan baku, membantu membuat bakso, meladeni pembeli, cuci piring, gelas dll. Disamping dia bekerja, dia juga mempelajari teknik membuat bakso, melayani pelanggan dsb sehingga semua aspek teknis pembuatan bakso telah dia kuasai.

Mengidentifikasi peluang usaha dan memulai usaha.

Sekitar 2 tahun bekerja membantu warung bakso, banyak hal tentang per bakso-an telah dia kuasai. Dia tahu dimana membeli hahan baku dan bahan-bahan pembantu serta berapa harganya

Sudah agak lama Ponidi bercita-cita untuk mandiri, namun masih bimbang untuk memilih jenis usaha yang cocok dengan kondisinya yang akan dapat ia lakukan dan tabungan yang ada untuk modal usaha belum mencukupi.

Dia semakin yakin bahwa usaha bakso menjadi pilihan yang paling tepat baginya. Untuk itu Ponidi ingin mencoba sendiri dengan berjualan bakso keliling.

Setelah tabungannya dirasa mencukupi untuk memulai usaha bakso, dia keluar dari pekerjaannya dan mulai mempersiapkan untuk usaha bakso keliling. Beberapa pertimbangan yang dia lakukan dalam memilih jenis usaha, antara lain :
1. Bahwa bakso banyak diminati oleh masyarakat di Surabaya. Hal ini terbukti banyaknya penjual/warung bakso dan pada umumnya cukup banyak pembeli.
2. Modalnya sedikit, yaitu untuk membeli angkring (gerobak), piring/mangkok, sendok , garpu, bahan baku, dan bahan-bahan yang lain. Yang paling mahal adalah untuk membeli angkring. Uang tabungan yang dia miliki, cukup untuk memulai usaha.
3. Perputaran modal kerjanya cepat. Setiap hari mesti mendapatkan uang.
4. Bahan bakunya mudah diperoleh.
5. Tingkat keuntungannya tinggi, sekitar 20% sd 30% setiap hari dari modal kerjanya.
6. Teknologi membuat bakso telah dia kuasai.
7. Risikonya kecil.

Ponidi memulai usaha bakso keliling di Surabaya. Awal mulanya dia tidak berani berspekulasi dengan menjual bakso yang banyak. Sehari dia hanya membuat bakso dengan bahan baku daging sapi sekitar 1 kg. Dengan tekun dia lakukan itu. Setiap hari dia selalu menyisihkan sebagian keuntungannya untuk ditabung. Berkat ketekunannya usaha baksonya sedikit demi sedikit berkembang.

Hijrah ke Ponorogo.

Sebagaimana layaknya darah Madura yang suka berpetualang, Ponidi ingin mencoba nasib ditempat lain yang dianggap mempunyai prospek yang lebih baik dibanding Surabaya. Walaupun usaha baksonya berkembang tetapi menurut dia perkembangan masih sangat lambat. Hal ibi disebabkan penjual bakso di Surabaya cukup banyak sehingga persaingan antar pedagang bakso semakin ketat. Akhirnya dia memutuskan untuk mengadu nasib di Ponorogo, sebuah Kabupaten kecil 28 km disebelah selatan Madiun.

Di Ponorogo dagangan Ponidi cukup diminati oleh masyarakat. Pelanggan semakin banyak, volume penjualannya meningkat dan juga tabungan Ponidi semakin bertambah. Hal yang positif dari Ponidi adalah selalu hemat dalam kondisi apapun.
Salahsatu pelanggan Ponidi adalah penjaga Toko Ramayana yang bernama Bibit. Setiap siang sekitar pukul 12 siang Ponidi mesti mampir ke Toko Ramayana dan Bibit pasti selalu menunggu kedatangannya untuk membeli dan merasakan bakso Ponidi yang menurutnya enak sekali. Bibit tidak hanya kepingin makan baksonya Ponidi tetapi ingin ketemu dan berbincang-bincang dengannya. Menurutnya berbincang-bincang dengan Ponidi mengasyikkan dan ada kecocokan dengan Bibit. Menurutnya Ponidi ini lain dari yang lain.

Bibit ini walaupun gadis desa tapi wajahnya cukup cantik, kulitnya juga bersih, pandai bergaul tapi agak genit. Karena sering ketemu akhirnya kedua makhluk Tuhan ini saling jatuh cinta. Untuk melangkah lebih lanjut ke jenjang perkawinan, Ponidi maupun Bibit masih belum berani, karena persiapannya terutama pendapatan masih belum mencukupi. Pada waktu itu umur Ponidi sekitar 20 tahun sedangkan Bibit sekitar 17 tahun.

Hijrah ke Malang.

Merasa bahwa perkembangan usaha bakso keliling di Ponorogo masih belum sesuai dengan harapannya, akhirnya Ponidi mencoba nasibnya di Malang. Dari pengalamannya dia mengetahui bahwa berdagang dengan sasaran pembeli (segmen pasar) golongan masyarakat kurang mampu ternyata tingkat keuntungannya tidak banyak. Golongan masyarakat kurang mampu sangat sensitive terhadap harga, sehingga Ponidi harus menjual baksonya dengan harga murah. Untuk mendapatkan keuntungan yang diharapkan, Ponidi harus menjual sebanyak mungkin baksonya. Ini yang menurutnya sulit.

Di Malang ternyata pesaingnya malah banyak. Kualitas bakso di Malang jauh lebih baik dari baksonya Ponidi, sehingga usaha Ponidi kurang berkembang. Namun dia pantang menyerah. Dia mempelajari cara untuk meningkatkan kualitas bakso/bakwan Malang dan akhirnya resep bakso/bakwan dapat dia kuasai.

Meningkatkan kualitas bakso dan mengubah segmen pasar.

Kemudian dia mencoba meningkatkan kualitas baksonya dan mengubah sasaran penjualan bakso dari golongan masyarakat kurang mampu ke golongan masyarakat yang lebih mampu. Disamping itu dia selalu minta masukan, kritik atau saran kepada pembelinya tentang kualitas baksonya dan kualitas pelayanannya. Setiap masukkan dicoba untuk di nalar dan digunakan sebagai bahan untuk memperbaiki kualitas bakso dan kualitas pelayanannya,
Alhamdulillah walaupun pelan tapi pasti Ponidi dapat meningkatkan kualitas bakso dan kualitas pelayanannya sesuai dengan keinginan konsumen. Dengan perbaikan kualitas bakso dan pelayanannya, volume usaha Ponidi semakin meningkat. Segmen pasar golongan masyarakat mampu semakin banyak yang menjadi pelanggan/pembeli baksonya.

Menikah.

Sambil bekerja Ponidi selalu mengadakan kontak dengan Bibit, pujaan hatinya melalui surat. Minimal seminggu sekali surat mesti dia kirim ke Bibit di Ponorogo. Demikian juga minimal seminggu sekali Bibit mengirim surat ke Malang.

Setelah tabungan dirasa cukup dan penghasilan dirasa juga dapat menutup biaya keluarga maka Ponidi secara resmi melamar Bibit untuk menjadi isterinya dan akhirnya mereka menikah dan Bibit di boyong ke Malang. Setelah menikah, semangat usaha Ponidi semakin meningkat. Apalagi setiap hari dia dibantu oleh isterinya tercinta yang selalu memberi dorongan kepada Ponidi.

Di Malang inilah awal mula keberhasilan Ponidi. Hal ini disebabkan dia meningkatkan kualitas bakso serta pelayanannya dan memperhatikan masukan dari pembeli serta dorongan dari isterinya.

Walaupun cukup sukses, Ponidi masih bercita-cita lebih sukses lagi. Di Malang, saingannya cukup banyak. Hampir semua penjual bakso di Malang kualitas baksonya bagus. Dia berpikir kalau dia pindah ke kota lain yang pada umumnya kualitas baksonya kurang bagus dia mungkin akan lebih menang dalam bersaing. Ahirnya dia berembug dengan isterinya untuk mencoba nasib dikota lain dan menentukan kota dimana dia akan pindah.

Hijrah ke Yogyakarta.

Keluarga Ponidi menentukan Yogyakarta sebagai tempat usaha dengan beberapa pertimbangan, antara lain :
1. Penduduk kota Yogya cukup padat dan sebagian besar anak muda.
2. Sebagian besar anak muda suka makan bakso,
3. Biaya hidup rendah,
4. bahan baku mudah didapat,
5. Pesaing dengan kualitas bakso yang sama, tidak banyak,
6. Kultur masyarakatnya bagus,

Karena sudah mempunyai tabungan yang agak cukup, di Yogya Ponidi tidak lagi menjual bakso keliling tetapi memasang tenda di muka rumah sakit Pugeran, pojok beteng kulon Yogyakarta. Dia berpikiran kalau tetap melaksanakan dengan cara lama (keliling) pelanggannya akan sulit untuk mencari dia kalau sewaktu-waktu ingin membeli baksonya. Dengan berjualan menetap, sewaktu-waktu pelanggan ingin membeli baksonya, pelanggan akan tahu dimana dia berada. Sejak saat itu dia pasang nama baksonya dengan nama “Cak Karno” nama sepupu Ponidi di Madura.

Semakin lama Bakso Ponidi semakin banyak pelanggannya dan dia semakin banyak tabungannya. Walaupun penghasilannya terus bertambah, prinsip “hemat” masih diterapkan oleh Ponidi dan keluarganya.

Tidak jauh dari warung tendanya ada tempat permanent milik pensiunan AURI yang disewakan. Ukuran tempat tersebut sekitar 8 x 8 meter. Waktu itu sewa per tahunnya Rp.14.000.000,- Setelah dipertimbangkan dengan masak-masak dan mengingat pembeli semakin banyak, Ponidi akhirnya menyewa tempat tersebut.

Dari hari ke hari volume penjualan warung bakso Ponidi semakin meningkat. Tidak sampai 1 tahun menyewa tempat jualan, Ponidi berhasil membeli tempat tersebut yang kebetulan pemiliknya membutuhkan uang dan menawarkan kepada Poinidi untuk membeli rumah tersebut. Pembelian tempat usaha ini juga mempertimbangkan kecocokan dengan segmen pasar yang baru.

Karena pelanggan semakin meningkat dan dari seluruh wilayah kodya Yogyakarta, maka Ponidi mencoba untuk mendekatkan pelayanan baksonya agar lebih dekat dengan pelanggan. Dia membuka 3 cabang warung bakso yaitu di dekat Pakualaman, Jl. Bhayangkara dan di dekat Jl. Solo.

Sekitar tahun 1996 Ponidi dapat menjual bakso dengan bahan baku daging sebanyak 200 kg. Pada waktu itu keuntungan yang dia peroleh per harinya tidak kurang dari Rp.2,5 juta. Pada waktu krisis ekonomi melanda Indonesia, jumlah tabungan Ponidi di Bank sekitar Rp.900.000.000,- dan tabungan isterinya sekitar Rp.200.000.000,- dengan bunga lebih dari 60% per tahun. Disamping tabungan di Bank, Ponidi mempunyai beberapa rumah yang total nilainya diatas Rp.1 milyard, mempunyai 2 buah mobil.

Saat ini tabungan Ponidi di Bank dan isterinya lebih dari Rp.5 milyard. Angka yang fantastis untuk penjual bakso yang pendidikannya hanya lulus SD.Hanya saja saat ini volume penjualan Ponidi menurun drastic menjadi 25 kg daging per hari. Hal ini antara lain disebabkan ada beberapa saudara Ponidi yang dulu bekerja di warungnya Ponidi mendirikan usaha yang sama dengan kualitas yang sama.

Pelajaran yang dapat diambil :

Dari kisah diatas ada beberapa hal positif yang dapat diambil apabila kita akan memulai usaha dan mengembangkan usaha, antara lain :
1. Si calon pengusaha harus mempunyai motivasi yang kuat untuk memperbaiki kehidupannya.
2. Langkah berikutnya adalah memilih peluang usaha dan jenis usaha yang akan dia lakukan yang paling tepat dengan kondisi usaha mikro. Jenis usaha yang dipilih seyogyanya memenuhi criteria sebagai berikut :
a. Produknya dibutuhkan masyarakat,
b. Tidak membutuhkan modal yang banyak (tidak padat modal),
c. Perputarannya cepat kalau bisa harian,
d. Risikonya kecil,
e. Manajemennya sederhana,
f. Bahan baku mudah diperoleh,
g. Tekonologinya dikuasai,
h. Tingkat keuntungannya tinggi.
3. Memilih segment pasar yang cocok dan mengidentifikasi “keinginan” segment pasar yang dituju.
4. Membuat produk, menetapkan harga, menentukan saluran distribusi, pelayanan dan jenis promosi yang dapat memuaskan konsumen (marketing mixed),
5. Selalu mendengarkan masukan konsumen, sehingga dapat disajikan produk dan pelayanan yang memuaskan mereka.
6. Tetap bersikap hidup hemat dan berbudaya surplus, sehingga tabungan semakin banyak.
7. Disamping ditabung, surplus yang diperoleh selalu ditempatkan dalam bentuk investasi yang meghasilkan keuntungan.

Jakarta, 20 Februari 2004.

Tagged: , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: