Tak Perlu Lamaran Kerja Untuk Berkantor di KPU


kalsel

Sudah 2 hari penulis berkantor di KPU Pusat, Jl. Imam Bonjol, Jakarta dalam rangka membantu helpdesk KPU dalam hal penggunaan DMR ICR di beberapa kota dan kabupaten di Indonesia. Penulis ditempatkan di ruangan yang lebih tampak sebagai ruang rapat, dengan sebuah meja oval, berkapasitas 12 orang yang mayoritas adalah rekan-rekan tim IT KPU dari BPPT.

Saat ruangan sedang digunakan untuk rapat koordinasi tertutup, penulis harus berada di luar ruangan🙂.

Keterlibatan penulis di KPU berawal dari sebuah panggilan telepon ke kantor kami tanggal 19 Maret 2009 dari Kepala Bagian Data dan Informasi KPU, Emil Tarigan. Kami diminta datang untuk mendemokan DMR ICR keesokan harinya untuk di-review oleh tim BPPT.

Jum’at 20 Maret, merupakan kali pertama saya ke KPU dan berkenalan dengan tim dari BPPT. Awalnya, penulis merasa tidak perlu berhubungan dengan tim BPPT karena pengadaan scanner dan software ICR  di daerah telah ada petunjuknya dan pada petunjuk tersebut sama sekali tidak disebutkan bahwa software ICR yang digunakan harus lulus uji BPPT.

Penulis tidak pernah mengajukan diri untuk di-review sebagaimana vendor-vendor lain untuk menjaga independensi serta  menghindari praktek rekomendasi dan anti-rekomendasi yang dapat berujung pada tindak pidana korupsi, sebagaimana yang menimpa beberapa mantan gubernur yang tersangkut kasus pengadaan pemadam kebakaran.

Ada 4 software ICR yang telah direview oleh tim BPPT. Sebut saja, DMR ICR, software A, Software B, dan software C. Tanggal 30 Maret 2009 lalu, penulis berkesempatan melihat presentasi dari keempat software tersebut, bagaimana performa dan kinerjanya untuk digunakan di 471 kabupaten dan kota di Indonesia.

Tiap software punya kelebihan dan kekurangan.

– DMR ICR

Kelebihan: Tampilan visual natural, mudah dipahami, verifikasi lebih cepat karena tak perlu mengetik pada keyboard, cukup dengan mouse. Ukuran file program sangat kecil, hanya 4MB, sehingga update terbaru dapat didistribusikan melalui VPN KPU. Didukung tim teknis dari perusahaan profesional, bukan hanya kumpulan orang. Sejak H-4 sudah siap menempatkan tim teknis di KPU, sambil mendampingi beberapa KPU di daerah.

Kekurangan: Akurasi moderat, hal tersebut wajar karena anggaran pengadaannya rendah. Kurang pendekatan ke KPU karena takut terseret pada kasus hukum.

– Software A

Kelebihan: Akurasi sangat tinggi, kualitas dan brand internasional.

Kekurangan: Banyaknya langkah yang harus dilakukan operator membuat proses verifikasi tampak rumit dan memakan waktu. Operator harus mengetik dengan keyboard untuk verifikasi. Ukuran file update sangat besar, butuh 10 jam untuk download melalui VPN KPU. Tim teknisnya di Indonesia sedikit, hingga H-2 belum menempatkan tim teknis di KPU dan belum dinyatakan lulus uji kriteria oleh BPPT.

– Software B

Kelebihan: Harga paling ekonomis, buatan dalam negeri. Ada isu bahwa engine-nya dari Israel, tapi pengembangnya lokal dari Malang.

Kekurangan: Berpotensi terjadi bahwa untuk setiap 1 scanner dibutuhkan 1 pola tersendiri untuk pembacaan. Bila pola salah, akurasi berkurang drastis. Operator harus mengetik dengan keyboard untuk verifikasi. Hingga H-2 belum menempatkan tim teknis di KPU dan belum dinyatakan lulus uji kriteria oleh BPPT.

-Software C

Kelebihan: Akurasi cukup tinggi, buatan dalam negeri. Lebih rajin melakukan lobi dan demo produk dalam rangka pendekatan ke KPU sehingga teknologi ICR digunakan pada Pemilu 2009.

Kekurangan: Harga paling mahal. Tampilan visual untuk verifikasi masih berbentuk tabel. Operator harus mengetik dengan keyboard untuk verifikasi. Pilihan pada tombol simpan berpotensi tinggi membingungkan operator. Tidak didukung tim perusahaan yang profesional, hanya mengandalkan orang per orang yang dari kostumnya masih tampak sebagai mahasiswa (tim teknisnya di KPU hadir setengah hari di H-2 menggunakan kaos tanpa kerah dan celana jeans pada lingkungan kerja formal, tim teknisnya di peluncuran infrastruktur IT KPU bercelana jeans dan tidak menggunakan batik padahal semua yang hadir menggunakan batik alias dress code hari itu adalah batik).

Haha, sampai meributkan batik segala. Suka-suka penulis dong. Soalnya Jum’at malam (3/4), di Gedung Telkom Gatot Subroto Jakarta, penulis baru tahu kalau besoknya harus pakai batik, karena acara akan dihadiri beberapa pejabat negara.

Jadilah penulis kembali ke Bandung hanya untuk mengambil baju batik, tiba pukul 1 dini hari, lalu ke Jakarta lagi jam 8 pagi. Semuanya demi menjaga kesopanan dan citra DMR ICR.

Mohon maaf kalau paparan di atas kurang objektif, soalnya saya orang DMR ICR.

Tagged: , , ,

One thought on “Tak Perlu Lamaran Kerja Untuk Berkantor di KPU

  1. fathur 4 Mei 2009 pukul 10:09 Reply

    hasil penilaian ini subyektif dari DMR sendiri… sungguh tidak fair…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: