Rokok dan Egoisme Terselubung


Komisi Perlindungan Anak Indonesia yang digawangi Kak Seto Mulyadi mengusulkan kepada MUI agar segera mengeluarkan fatwa haramnya merokok. Hal tersebut menurut beliau perlu dilakukan dalam rangka menyelamatkan generasi Indonesia dari bahaya rokok.

Pro dan kontra pun terjadi, antara yang membela dan yang tidak setuju. Dari beberapa pro dan kontra di Internet, ternyata ada beberapa hal yang sangat menarik mengenai kecenderungan seseorang untuk memilih pilihan yang terbaik hanya bagi dirinya sendiri, tanpa peduli dengan orang lain.

Pro Tapi Egois
Yang setuju agar rokok itu diharamkan ternyata adalah orang-orang yang merasa terganggu dengan asap rokok ketika berada di tempat umum, rumah, gedung perkantoran, maupun tempat kerja. Mereka beranggapan bahwa dengan diharamkannya rokok, maka mereka tidak akan terganggu lagi dengan asap rokok. Ya, inilah orang yang menolak rokok atas dasar egoisme karena tidak memberikan solusi bagi kelompok yang merokok, hanya mengejar cita-cita kelompoknya sendiri: kelompok anti-rokok.

Kontra Tapi Egois
Adapun orang yang selama ini merokok atau kecanduan rokok, pasti akan menolak mentah-mentah usulan pengharaman rokok. Mengapa? Karena mereka selama ini sudah kecanduan rokok dan pikiran mereka sudah dipenuhi dengan asumsi semu bahwa rokok adalah kebutuhan utama, lebih baik tidak makan sehari daripada tidak merokok sehari.

Agar terkesan tidak egois, dicarilah alasan-alasan yang aneh bin ajaib, seakan-akan bahwa mengharamkan rokok adalah suatu hal yang tidak mungkin, akan sangat sulit untuk dilakukan dan perlu tinjauan mendalam yang komprehensif sebelum diberlakukan. Jika pabrik rokok tutup, karyawannya akan bekerja di mana? Penghasilan cukai yang selama ini dari penjualan rokok akan ada gantinya dari mana?

Tinjauan Kekinian
Dua tahun lalu, kami beraktifitas selama sebulan penuh di sebuah hotel dalam rangka pemeriksaan CPNS tingkat propinsi. Ternyata para pegawai pemerintah yang bertugas di sana adalah perokok berat!
Di awal tahun lalu kami mengadakan seleksi penerimaan pegawai baru di kantor kami , tapi ternyata semua yang terbaik hasil seleksinya adalah perokok!

Dua bulan lalu kami beraktifitas di Puspendik Depdiknas di Jakarta dan Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Tengah di Semarang. Ternyata mereka juga perokok berat! Dua hari yang lalu kami berkunjung ke Kantor Departemen Agama Kota Bandung untuk mendapatkan pelayanan umum, dan kami mendapati bahwa mereka juga perokok berat! Jangan-jangan, bila merokok diharamkan, yang protes lebih dahulu adalah PNS Departemen Agama dan Departemen Pendidikan.

Dua jam yang lalu, kami membaca sebuah website tentang haji. Di sana disebutkan bahwa jamaah haji Indonesia pun ternyata tidak dapat melepaskan diri dari kebiasaan merokok saat sedang menunaikan ibadah haji.

Intinya, dari guru hingga ulama, dari ilmuwan hingga kiai, preman hingga pengamen, pengangguran hingga pejabat negara, kecanduan akan rokok tidak pandang profesi. Dari terminal bis hingga bandar udara, apartemen hingga gubuk derita, naik becak maupun naik kereta, diskotek maupun peringatan Isra Mi’raj, orang merokok ada di mana-mana. Bagi yang tidak merokok, rokok adalah penyakit. Sedangkan bagi yang telah kecanduan, justru rokok adalah obat. Itulah dua buah kepentingan yang saling bertolak belakang.

Kesehatan dan Narkoba
Dari segi kesehatan, biaya yang ditanggung pemerintah akibat penyakit yang ditimbulkan oleh kebiasaan merokok atau terlalu sering terkena asap rokok masih lebih besar daripada cukai yang diterima oleh pemerintah dari produk rokok. Menaikkan cukai juga diduga akan menurunkan daya beli terhadap makanan pokok, karena bagi pecandu rokok, rokok lebih prioritas daripada bahan makanan pokok untuk keluarganya.

Survey membuktikan bahwa 100% pengguna narkoba adalah perokok! Artinya, kebiasaan maupun keberanian untuk mencoba narkoba diawali dari kebiasaan dan keberanian untuk merokok. Artinya, salah satu cara ampuh untuk menjauhi narkoba adalah dengan meneguhkan pendirian untuk tidak mencoba merokok.

Simulasi Fatwa Haramnya Merokok
Bila rokok diharamkan, maka mungkin hasilnya tidak jauh berbeda dengan fatwa MUI mengenai haramnya riba di bank konvensional. MUI bagi sebagian besar umat Islam di Indonesia justru tidak ada apa-apanya. MUI hanyalah sebuah lembaga tempat berkumpulnya para ulama, tetapi umat Islam saat ini sudah jauh dari yang namanya ulama. Jadi, mana mungkin mereka mendengarkan ulama, apalagi bila itu akan merugikan mereka?

Ulama hanya dibutuhkan ketika khutbah Jum’at, khutbah nikah, aqiqah, tahlilan, syukuran, atau ada acara yang butuh penceramah. Ulama tidak lebih dari ustadz yang punya pesantren atau punya pengajian tetap, atau punya yayasan pendidikan, praktek penyembuhan penyakit, KBIH dan travel umrah. Ulama sudah terlalu jauh dari masyarakat yang lebih banyak mendapatkan nilai-nilai kehidupan dari 2 tempat: lingkungan pergaulan pekerjaan maupun tempat tinggal, serta berita dan hiburan yang berlebihan dari televisi.

Di sisi lain, sebagian kaum intelektual yang menyebut dirinya muslim malah menjatuhkan martabat dirinya dengan menjadikan pemikirannya sebagai tuhan, serta intuisi dan pendapat diri sendiri sebagai ayat suci. Fakta pelanggaran berat aliran Ahmadiyah terhadap aqidah Islam saja dapat diputarbalikkan sebagai sebuah masalah kebebasan beragama. Bisa jadi, melarang orang merokok akan dibawa-bawa oleh kelompok aneh ini sebagai sebuah pelanggaran HAM.

Kompromi
Tidak cukup hanya dengan fatwa. Bahkan bila dimasukkan ke dalam undang-undang yang legal secara hukum dan diberlakukan bagi semua penduduk, tetap saja masih akan ada penegak hukum yang merokok. Diancam dengan neraka, penjara, sakit kanker, sakit jantung, impotensi, bayi cacat, itu semua tidak cukup menakutkan atau masih kurang mengerikan bagi para perokok berat, karena godaan untuk merokok masih lebih kuat.

Sebenarnya, kompromi dapat dicapai dengan cara menyingkirkan egoisme, baik bagi yang pro maupun bagi yang kontra pada usulan fatwa haramnya rokok. Perlu dipilih solusi yang terbaik bagi semuanya, bagi yang pro maupun kontra, sekali lagi tanpa egoisme.

Menyikapi kebiasaan merokok perlu dipandang dari segi menghargai manusia sebagai makhluk sosial, makhluk yang tidak dapat hidup tanpa bantuan orang lain. Lepaskan dulu balutan egoisme, singkirkan dulu keberpihakan kelompok. Tinjaulah sisi akibat tindakan merokok, baik itu manfaat, maupun mudharat bagi semua orang.

Merokok itu dianggap baik oleh perokok, tetapi dianggap merugikan bagi yang tidak merokok. Di ilmu Biologi, hal ini disebut sebagai simbiosis parasitisme. Orang yang merokok bagaikan sebuah benalu, tumbuhan parasit yang bisanya hanya menumpang, tetapi merugikan yang memberikan tumpangan. Ingatlah puisi Dedy Mizwar, bangkit itu malu, malu jadi benalu. Orang yang tidak mampu menahan kebiasaannya untuk merokok di tempat umum itu tidak punya malu, dan tidak ingin bangkit dari statusnya sebagai benalu.

Merokok=BAB
Perlu dikembangkan dan diterapkan teknologi yang memungkinkan para perokok dapat melaksanakan hajatnya tanpa mengganggu orang lain yang tidak suka asap rokok. Demikian pula perlu keberanian dan ketegasan dari setiap orang yang alergi dengan asap rokok untuk menyatakan sikap penolakan terhadap gangguan asap rokok. Potensi konflik bahkan kerap terjadi bila ada yang berani merokok di tempat umum, padahal di sana ada yang alergi asap rokok.

Anggap saja, merokok itu seperti buang air besar (BAB), hak yang perlu ditunaikan di tempat khusus, tempat yang gas dan baunya tidak boleh mengganggu orang lain. Para perokok tentu malu BAB di depan umum, seharusnya seperti itu pulalah tingkat malu mereka ketika merokok di depan umum. Adapun bagi kelompok anti rokok, tegurlah dengan tegas bila ada yang merokok di hadapan Anda sebagaimana halnya bila ada yang BAB di depan Anda. Jika Anda berani, niscaya Anda tidak sendiri. Dan jika ternyata Anda sendiri dan malah balik diceramahi atau bahkan dianiaya, setidaknya tindakan berani Anda secara tidak langsung pasti akan mengurangi kejadian serupa terulang kembali.

Stop Kaderisasi Membakar Uang
Tidak peduli apakah Anda bukan perokok atau perokok, jagalah keturunan dan keluarga Anda dari coba-coba merokok. Bagi yang sudah kecanduan mungkin sulit untuk berhenti. Tetapi bagi keturunan Anda yang bahkan belum memulai mencoba merokok, adalah sangat mudah untuk mencegah mereka memulainya. Apabila Anda benar-benar berniat untuk membuat generasi penerus kita lebih baik, cobalah untuk berubah, berilah contoh berupa perbuatan nyata, yaitu dengan cara berhenti merokok.

Bagaimana Cara Berhenti Merokok? (Khusus Bagi Perokok)
Niatkan untuk berhenti merokok, hanya 2 hari, yaitu hari ini dan besok. Esok hari, gunakan niat yang sama, hanya untuk hari itu dan keesokannya. Keesokannya lakukan lagi hal yang sama, demikian seterusnya.

Jika tidak mempan, coba cara kedua, dipegang saja, tidak perlu dinyalakan. Pasti di sekitar Anda tidak ada yang protes, toh tidak ada asap. Jika masih gagal, coba cara ketiga.

Setiap kali Anda menyalakan rokok, gunakan prinsip menuju kemajuan, biarkanlah apinya maju, makin menjauh dari Anda. Peganglah rokok dengan arah terbalik. Api yang menyala dan sisa abu tembakau ke arah wajah, pegangan ke arah luar. Tiap kali Anda berusaha mendekatkan bibir ke api, tentu Anda akan ragu mengulanginya. Hal tersebut berbahaya dan berakibat buruk. Sadari bahwa itulah yang sebenarnya selama ini Anda lakukan, berbahaya, dan berakibat buruk.

Setiap kali Anda mencoba untuk mendekatkan bibir ke pangkal rokok yang tidak berapi, ingatlah bahwa sesulit itulah Anda setiap hari mencari nafkah, namun kemudian setelah mendapatkan uang, uang itu ada hamburkan dengan cara membakarnya.

Tagged: ,

3 thoughts on “Rokok dan Egoisme Terselubung

  1. nonpyrogenic 22 Agustus 2008 pukul 1:32 Reply

    http: // www . banjarmasinpost . co . id / content / view / 47128 / 658 /

    Mengandung 4.000 Bahan Berbahaya
    Jumat, 22-08-2008 | 00:01:04
    Oleh: Ibibrahim Ashabirin
    Setelah mengetahui dalam setiap asap rokok terkandung 4.000 bahan kimia berbahaya, masihkah kita hendak meracuni diri sendiri?….

  2. wyd 27 Agustus 2008 pukul 20:09 Reply

    jangan terlalu memojokkan perokok. lihat alasan mereka merokok di rumah saya http://blogwyd.blogspot.com

  3. faisol 28 Agustus 2008 pukul 8:42 Reply

    terima kasih sharing ilmunya…
    saya membuat tulisan tentang “Mengapa Pahala Tidak Berbentuk Harta Saja, Ya?”
    silakan berkunjung ke:

    http://achmadfaisol.blogspot.com/2008/08/mengapa-pahala-tidak-berbentuk-harta.html

    salam,
    achmad faisol
    http://achmadfaisol.blogspot.com/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: