Arsip Bulanan: Mei 2008

DMR, Software Resmi Depdiknas untuk UASBN

Setelah melalui proses seleksi dan tender yang berlarut-larut di Depdiknas, alhamdulillah bulan April 2008 kami diberi amanah untuk mengembangkan DMR UASBN, sebuah hasil kustomisasi dari perangkat lunak Digital Mark Reader (DMR). Bagi yang belum tahu, UASBN adalah singkatan dari Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional untuk SD/MI/SDLB.

Sekitar 700 peserta dari dinas pendidikan setiap kota/kabupaten dan propinsi di Indonesia telah menjadi peserta pelatihan DMR UASBN yang diselenggarakan di Jakarta, 29 April – 4 Mei 2008. Pelatihan yang berjalan lancar tersebut diikuti dengan kelancaran pemrosesan scanning di tingkat kabupaten dan kota yang terus dipantau oleh tim teknis DMR UASBN bersama Puspendik Depdiknas.

Beberapa sejarah yang tercetak pada pelaksanaan UASBN:

  1. Pertama kalinya ujian SD berskala nasional
  2. Pertama kalinya pemeriksaan ujian berskala nasional menggunakan scanner gambar, bukan scanner OMR sehingga membutuhkan perangkat lunak DMR
  3. Pertama kalinya lembar jawab ujian berskala nasional diisi dengan tanda silang, bukan bulatan
  4. Pertama kalinya dinas pendidikan kabupaten dan kota secara formal mengoperasikan scanner untuk ujian berskala nasional (karena sebelumnya semua scanning hanya dapat dilakukan di propinsi)


Perjuangan sekian tahun untuk melakukan sosialisasi pengisian ujian dengan tanda silang akhirnya berbuah juga. Semoga pelaksanaan semua ujian berskala nasional di tahun berikutnya juga menggunakan tanda silang dan kembali diperiksa menggunakan DMR.

web: http://digitalmarkreader.com

Hati-Hati Mengisi Teko

Aa Gym dalam sekian banyak kesempatan sering berujar “Teko hanya mengeluarkan isinya. Kalau isinya teh, yang keluar ya teh. Kalau isinya air putih, yang keluar ya air putih.”

Setiap hari kita bergaul dan berinteraksi dengan orang-orang di sekitar kita. Dari tutur kata dan akhlak perilakunya kita dapat menebak isi hatinya. Tapi siapa sangka, ketika kita lama berpisah dan lalu bertemu kembali, sifatnya mungkin sudah jauh berbeda.

Perumpamaan teko mungkin cukup tepat untuk menggambarkannya. Teko itu tidak cuma mengeluarkan sesuatu tetapi juga diisi dengan sesuatu. Di sini kita dapat mengambil makna yang lebih dalam. Teko bukan sekedar mengeluarkan isi, tetapi mengeluarkan sesuatu yang pernah masuk ke dalamnya.

Masa-masa menimba ilmu secara formal rata-rata hanya 1/4 dari jatah usia hidup kita. Selebihnya bernama pengalaman, ciri utamanya: ujian dahulu baru belajar. Pengaruh orang tua dalam pembentukan karakter mungkin ada, tetapi tidak seberapa dibandingkan dengan pengaruh lingkungan, termasuk pendamping hidup, keluarga, sahabat, tetangga, rekan kerja, dan media massa.

Pola pikir, permakluman, kebiasaan, tradisi, ketaatan, pembentukan alam khayal hingga penerapan aturan tanpa sengaja dapat terbentuk dari adanya interaksi langsung dengan sumbernya, melihat contoh, membaca berita, atau mendengar opini, dongeng maupun kisah atau hal-hal lain yang mungkin tidak berguna.

Apa pesan moralnya? Hati-hatilah saat memasukkan ‘sesuatu’ ke diri kita atau anak-anak kita. Bila hal itu buruk, ada 2 kemungkinan. Pertama, keburukan itu menumpuk menjadi sampah di dalam diri. Atau kedua, keburukan itu keluar dari diri dalam bentuk ucapan, pikiran, niat, bahkan perbuatan.

Dibalut dengan perhiasan semahal apapun, teko tetap mengeluarkan apa yang pernah masuk ke dalamnya. Kita bukan teko, tapi mari belajar dari ‘ilmu teko’.