8 Joki Teridentifikasi Pada Uji Teknis Peralatan UN Depdiknas


joki1.jpg
Ujian Nasional (UN) dan Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional (UASBN) akan segera digelar. Depdiknas tengah mempersiapkan segala yang dibutuhkan, termasuk peralatan pemeriksaan ujian. Namun proses pengadaannya pun tidak lepas dari praktek perjokian, yakni saat berlangsungnya uji teknis pengadaan peralatan ujian nasional dari tanggal 28 Februari hingga 4 Maret 2008 di Pusat Penilaian Pendidikan (Puspendik), Balitbang Depdiknas, Jl Gunung Sahari Raya, Jakarta.

Terdapat 8 joki dengan kemampuan intelelektual tinggi yang teridentifikasi pada uji teknis tender pengadaan peralatan ujian nasional senilai Rp 19 milyar di Depdiknas. Mereka disusupkan, disamarkan dan disebar oleh salah satu vendor perangkat lunak menjadi karyawan dadakan pada 5 dari 16 perusahaan peserta lelang agar dapat menjadi operator perangkat lunak yang diuji.

Dari beberapa joki diperoleh keterangan bahwa para joki yang sebenarnya berlevel trainer tersebut menganggap perbuatan mereka sah-sah saja. Mereka bersedia menjadi joki karena tidak tahu mengenai urgensi uji teknis pada pengadaan peralatan ujian nasional. Padahal, salah satu kriteria penting yang diuji pada uji teknis adalah tingkat kemudahan penggunaan perangkat lunak.

Waktu yang tersedia bagi pelatihan perangkat lunak terpilih sangat singkat dan 509 unit sistem pemeriksa ujian tersebut nantinya akan digunakan secara tersebar di setiap dinas pendidikan kota dan kabupaten. Atas latar belakang itu, panitia uji teknis sejak jauh hari telah menetapkan peraturan tegas bahwa operator harus berasal dari perusahaan peserta lelang, bukan vendor perangkat lunak.

Dengan keterlibatan 8 orang joki pada 5 perusahaan peserta lelang, proses penilaian uji teknis menjadi bias sehingga berpotensi mengakibatkan kerugian negara hingga milyaran rupiah sebagaimana telah terjadi sebelumnya pada pengadaan peralatan serupa pada tahun 2007. Dapat diterima dengan nalar, perangkat lunak yang memerlukan joki setingkat trainer sebagai operator pasti akan bermasalah ketika digunakan oleh orang biasa.

Panitia uji teknis yang telah mendapatkan peringatan mengenai kehadiran para joki memilih untuk diam sambil menutup mata. Mereka seakan-akan menjadi bagian dari konspirasi dengan melindungi perusahaan peserta lelang yang melibatkan para joki. Panitia hanya memperhatikan pembenaran secara administratif, bahwa setiap operator telah mendapatkan surat tugas dari perusahaan peserta lelang.

Panitia juga tampak berpihak ke salah satu vendor perangkat lunak dengan mengubah jadwal serta metode pelaksanaan uji teknis akibat ketidakmampuan salah satu vendor perangkat lunak untuk melalui salah satu tahap uji. Dalam tender ini, panitia juga meniadakan komponen penilaian yang sangat substantif bagi setiap sistem pemeriksa ujian yang ikut ‘diperlombakan’ pada uji teknis.

Seharusnya beberapa hal berikut juga turut dinilai:
1. Kredibilitas pengembang perangkat lunak sebagai tim (bukan perseorangan belaka).
2. Kapabilitas pengembangnya sebagai perusahaan dalam menjamin keberlanjutan usia perangkat lunak.
3. Kualitas dukungan teknis dan jangkauan pelayanan kepada pengguna perangkat lunak.
4. Pengalaman penggunaan perangkat lunak dalam pemeriksaan ujian yang pengisiannya dengan tanda silang dengan volume pekerjaan minimum 100 ribu lembar.

Kriteria penilaian dari segi pengalaman sangat penting mengingat bahwa 15 juta lembar jawab UASBN (SD/MI/SDLB) yang pengisiannya menggunakan tanda silang dijadwalkan akan diperiksa oleh lebih dari 450 dinas pendidikan kabupaten dan kota di Indonesia. Bila sistem pemeriksaan ujian yang terpilih cenderung dipaksakan menggunakan perangkat lunak dari salah satu vendor yang belum terpercaya, maka hasil UN dan UASBN yang diperoleh dapat meleset dari kenyataan sebenarnya sehingga tidak dapat menjadi tolok ukur kebijakan lokal maupun nasional dalam bidang pendidikan tahun ini maupun tahun-tahun berikutnya.

Arif Rahmat
Cipta Citra Codena
Inventor dan Prinsipal DMR
Jl. Batik Ayu No. 26
Sukaluyu, Bandung
022-2506417
08156219300
http://www.codena.co.id
http://digitalmarkreader.com

Baca juga:

DMR, Alat Periksa Ujian Untuk Segala Jenis Form

Tagged: , , , , , , , , , , ,

10 thoughts on “8 Joki Teridentifikasi Pada Uji Teknis Peralatan UN Depdiknas

  1. riza broker 21 Maret 2008 pukul 3:14 Reply

    hello

  2. parbutaran 21 Maret 2008 pukul 3:14 Reply

    hello

  3. Andre 1 April 2008 pukul 20:16 Reply

    Selamat Mlm Mas,
    Perkenal kan saya Andre dari Mahasiswa UNIV. Riau, Saya sangat tertarik sekali mas untuk melakukan Skripsi Tentang DMR.
    Kira-kira Mas Arif ada saran mengenai web site yang mengulasnya. dan apa saja yang harus saya kuasai.
    Sebelum dan sesudahnya saya ucapkan terimakasih mas, Besar harapan saya dapat Bantuan dari mas, Soalnya Dosen-dosen kurang setuju sama judul ini katanya terlalu berat. Terimakasih

    Arif Rahmat:
    Yang perlu dipelajari:
    – Bagaimana pilihan patokan/referensi form yang terbaik
    – Bagaimana metode yang dipilih untuk pengenalan kehitaman
    – Bagaimana membuat editor yang sesuai dengan pilihan referensi

  4. alfin 3 April 2008 pukul 15:01 Reply

    hmm.. masalah umum yg sering terjadi di tender project pemerintah..
    mudah2an yg terbaik menang…
    good luck!

  5. Andre 3 April 2008 pukul 19:27 Reply

    Kira-kira gimana mas, scanner bisa membaca data?Biar saya gak terlalu mengganggu mas, mas ada Refrensi buku gak? atau web, Biar saya coba belajar sendiri dulu, kalo gak ngerti baru bertanya. Sebelum dan sesudah saya ucapkan trimakasih mas.

  6. Habib 27 Juni 2008 pukul 6:00 Reply

    Usul sedikit saja Mas, mungkin sebaiknya foto di atas tidak perlu dipajang. Memang sih sudah disamarkan, tapi bagi sebagian orang (seperti saya) foto tsb sudah sangat jelas sekali… Tapi sekali lagi, itu cuma usul. Terserah Mas Arif saja bagaimana baiknya.

  7. arifrahmat 30 Juni 2008 pukul 2:24 Reply

    To Andre:
    Maaf, saya jarang menggunakan buku sebagai referensi, lebih banyak mencoba mengimplementasikan ide sendiri. Jadi, tidak ada referensi buku yang dianjurkan.

    To Habib:
    Adakah yang salah? Apa benar tidak malu jika diketahui orang menjadi joki? Saya juga kenal dengan pria yang ada di foto itu, dan saya berasumsi bahwa saat difoto, dirinya tidak tahu bahwa sedang menjadi joki. Foto tersebut saya kaburkan agar tidak membuat dia malu. Kalau ternyata yang terjadi adalah sebaliknya, ya maaf, itu di luar dugaan. Memang, jadi joki itu ada resikonya.

  8. novita 17 Januari 2009 pukul 18:11 Reply

    numpang baca artikelnya ya..

  9. arifrahmat 6 April 2009 pukul 12:44 Reply

    To: cjb
    Alhamdulillah, pertolongan Allah masih ada, DMR tidak terlibat ataupun dilibatkan dalam kasus-kasus yang terjadi di Ciamis.

    Terima kasih atas perhatiannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: