Mengupas Kisah Pengalaman Riset, DMR Dahulu, Kini dan Nanti


Iping SuprianaPada tahun 2002, Dr. Iping Supriana, DEA, seorang dosen senior di Departemen Teknik Informatika (kini STEI) ITB ditantang oleh salah seorang rekan sejawatnya untuk membuat suatu sistem pemeriksa ujian yang dapat membaca hasil pekerjaan siswa pada lembar soal (bukan lembar jawaban). Sebuah riset unggulan ITB bertema sistem pemeriksa ujian berbiaya rendah pun dimulai, dibantu oleh Ayu Purwarianti S.T. (dosen di tempat yang sama) dan Muhammad Arif Rahmat T., mahasiswa tingkat akhir yang juga menjadikan penelitian tersebut sebagai Tugas Akhir.

Pendek cerita, dalam beberapa pekan saja, prototipe perangkat lunak yang diharapkan telah tercipta. Namun setelah dipertimbangkan secara matang, akan sangat membuang waktu apabila setiap lembar soal dari setiap siswa harus dimasukkan ke scanner (pemindai). Misalnya pada sebuah ujian pilihan ganda dengan 60 soal, setidaknya terdapat 6-10 halaman yang perlu diperiksa untuk setiap siswa. Ya, itulah alasan mengapa diperlukan lembar jawaban!

Periset yang terlibat tidak setuju dengan istilah Lembar Jawaban Komputer (LJK) karena jawaban yang tertera padanya bukanlah jawaban dari komputer. Untuk itu, diperkenalkanlah istilah Dokumen Bertanda Jawaban (DBJ) yang lebih tepat dari segi bahasa. Ternyata dalam perkembangannya, dengan sulitnya pengucapan DBJ, tetap saja istilah LJK atau Form yang lebih sering digunakan.

Dengan riset bertemakan OMR (Optical Mark Reader) tetapi memanfaatkan scanner (pemindai) digital, maka tim riset menamai teknologi, sistem dan perangkat lunak yang dihasilkan dengan Digital Mark Reader, disingkat DMR.

Atribut sebagai Karakteristik Form
DMR FormPada sebuah form DMR dibutuhkan atribut penanda yang akan berfungsi sebagai acuan. Keberadaan acuan tersebut harus dapat menjamin akurasi dan presisi pembacaan rangkaian titik hitam sebagai pertanda jawaban. Maklum saja, ketika sebuah form masuk ke scanner, besar kemungkinan akan terjadi distorsi geometrik berupa pergeseran (translasi) dan perputaran (rotasi) walaupun hanya sedikit. Adapun untuk mengantisipasi keberagaman resolusi pada scanner, form tersebut juga harus mampu mengatasi perubahan ukuran.

Untuk membuat form yang seragam dan mengandung atribut-atribut khusus, dikembangkanlah DMR-Editor dengan fitur-fitur yang sangat memudahkan pembuatan desain form. Pembuatan desain tersebut bertujuan sebagai pola cetakan dan sekaligus sebagai pola daerah bertanda yang nantinya perlu dibaca.

Setiap atribut yang ada pada form DMR memiliki alasan di balik keberadaannya. Itulah yang membedakan DMR sebagai hasil riset asli ITB dengan beberapa perangkat lunak lain tiruan DMR yang muncul belakangan dan juga kadang mengaku dari ITB tetapi tidak jelas sejarah pengembangannya. Perangkat lunak lain bahkan ada yang meniru atribut pada form OMR – yang notabene teknologi lama – tanpa mengetahui kekurangan yang ada di balik atribut tersebut.

Pemindaian dan Algoritmanya
Bermodalkan beberapa alat pemindai citra digital sederhana, percobaan demi percobaan dilakukan, dan terciptalah DMR Extractor yang mengandung modul scanning, pembacaan/ekstraksi dan pembuatan laporan.

Optimasi kecepatan ekstraksi terus dilakukan dengan menyederhanakan struktur data dan mengurangi konsumsi memori. Adapun dari segi kualitas, beberapa algoritma dasar mata kuliah grafika dan kecerdasan buatan juga diterapkan untuk mendapatkan akurasi dan tingkat kepercayaan yang tinggi. Untuk dapat menyimpan, menampilkan dan memperbaiki gambar dalam rangka visualisasi dan verifikasi hasil pembacaan, diterapkan pula beberapa algoritma canggih dari mata kuliah pengolahan citra.

Inovasi vs Plagiat
Sebagai bagian dari perlindungan terhadap hak cipta, media distribusi DMR dibuat berbentuk USB flash disk, bukan CD/DVD sebagaimana perangkat lunak yang umumnya dikenal. Dengan demikian, penggunaan DMR secara ilegal dapat dicegah. Namun beberapa tahun kemudian, setelah DMR makin dikenal dan banyak digunakan, bermunculanlah beberapa plagiator lokal yang meniru DMR habis-habisan. Walaupun semua tampilan dan perilaku DMR berusaha untuk ditiru semirip mungkin, namun prinsip kerja, fitur dan akurasinya tentu jauh berbeda dan fitur-fiturnya pun tertinggal jauh di belakang.

Saat ini, di mana ketersediaan komputer masih minim, DMR masih banyak dibutuhkan oleh penyelenggara ujian. Namun dalam belasan tahun ke depan, di mana diprediksikan bahwa komputer akan menjadi senilai dengan harga jam tangan saat ini, maka penyelenggaraan ujian menggunakan kertas akan sulit ditemukan. Komputer mini akan tersedia sebanyak jumlah peserta ujian, saling terhubung dengan teknologi nirkabel, sehingga pengisian jawaban ujian dapat dilakukan secara langsung.

Arif RahmatUntuk menyambut visi ke depan yang disesuaikan dengan kebutuhan saat ini, DMR akan terus berinovasi & berusaha untuk menjadi pionir dalam perkembangan teknologi pengisian jawaban ujian yang saat ini juga beririsan dengan bidang survey, entri data dan psikologi.
Iping Supriana & Arif Rahmat
Bandung, Februari 2007

Tagged: , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: