Raih HP 1013=Rp900.000 dengan Menulis

10 08 2009

Kontes Menulis DMR akan segera diselenggarakan sebagai cara alternatif memiliki Netbook HP 1013 cukup dengan Rp900.000.

Kontes Menulis DMR adalah kontes menulis online tentang produk Digital Mark Reader (DMR). Kontes Menulis DMR dapat diikuti oleh penulis media online maupun penulis blog. Kriteria utama penilaian tulisan adalah urutan tampil di mesin pencari Google dengan kata kunci tertentu. Bila peminatnya mencapai 1000 orang, Kontes Menulis DMR akan segera dimulai dengan waktu penjurian 1 bulan kemudian.

Bila pada 31-8-2009, peminat belum mencapai 1000 orang, Kontes Menulis DMR tetap dimulai dengan harga Netbook HP 1013 menjadi Rp1.900.000. Jumlah peminat dihitung dari banyaknya situs media atau situs blog yang didaftarkan.

Anda berminat? Daftarkan segera situs web Anda di http://dmrdmr.com

Baca juga: DMR Promo Merdeka

Digital Mark Reader (DMR) adalah hasil riset ITB tentang alat pemeriksa ujian berbiaya rendah. DMR dipasangkan dengan produk scanner merk HP, Canon, Kodak, Avision, Miru dan Fujitsu untuk melakukan pemindaian (scanning) Lembar Jawab Komputer (LJK). Tahun 2009, DMR terbaru mampu memeriksa hingga 12000 gambar/menit. Dengan efisiensi operasional yang ditawarkan, sebanyak 500 lembaga di 5 negara telah menggunakan 1000 lisensi DMR untuk dunia pendidikan, riset pemasaran, penilaian kinerja, psikotes, sertifikasi, entri data, penerimaan pegawai dan ujian seleksi CPNS.





DMR, Software Resmi Depdiknas untuk UASBN

29 05 2008

Setelah melalui proses seleksi dan tender yang berlarut-larut di Depdiknas, alhamdulillah bulan April 2008 kami diberi amanah untuk mengembangkan DMR UASBN, sebuah hasil kustomisasi dari perangkat lunak Digital Mark Reader (DMR). Bagi yang belum tahu, UASBN adalah singkatan dari Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional untuk SD/MI/SDLB.

Sekitar 700 peserta dari dinas pendidikan setiap kota/kabupaten dan propinsi di Indonesia telah menjadi peserta pelatihan DMR UASBN yang diselenggarakan di Jakarta, 29 April – 4 Mei 2008. Pelatihan yang berjalan lancar tersebut diikuti dengan kelancaran pemrosesan scanning di tingkat kabupaten dan kota yang terus dipantau oleh tim teknis DMR UASBN bersama Puspendik Depdiknas.

Beberapa sejarah yang tercetak pada pelaksanaan UASBN:

  1. Pertama kalinya ujian SD berskala nasional
  2. Pertama kalinya pemeriksaan ujian berskala nasional menggunakan scanner gambar, bukan scanner OMR sehingga membutuhkan perangkat lunak DMR
  3. Pertama kalinya lembar jawab ujian berskala nasional diisi dengan tanda silang, bukan bulatan
  4. Pertama kalinya dinas pendidikan kabupaten dan kota secara formal mengoperasikan scanner untuk ujian berskala nasional (karena sebelumnya semua scanning hanya dapat dilakukan di propinsi)


Perjuangan sekian tahun untuk melakukan sosialisasi pengisian ujian dengan tanda silang akhirnya berbuah juga. Semoga pelaksanaan semua ujian berskala nasional di tahun berikutnya juga menggunakan tanda silang dan kembali diperiksa menggunakan DMR.

web: http://digitalmarkreader.com





Sistem Coblos Pemilihan Ketua IA-ITB, Alumnus ITB Ada yang Buta Huruf?

16 11 2007

DMR Pemilu @ DMR Booklet 2007

Pramono Anung, rekan separtai Pak Laksamana Sukardi beberapa hari lalu berkomentar menanggapi usulan pemerintah mengganti sistem coblos dengan penulisan pada Pemilu 2009. ”Orang-orang yang buta huruf masih banyak. Ibu-ibu sepuh yang ada di pedesaan itu bagaimana? Hak mereka kan sama,” katanya. (http://galihhari.wordpress.com/2007/11/11/pemilu-2009-pencoblosan-diganti-penulisan-penolakan-pdip)Pada lingkup yang lebih kecil – IA-ITB – Sabtu besok akan ada pemilihan Ketua. Kabarnya sistemnya juga masih dengan pencoblosan. Ada yang beranggapan ini adalah hal lucu, mengingat bahwa alumnus ITB memiliki intelektualitas di atas rata-rata dan cenderung tidak mau tertinggal dalam penerapan teknologi.

Pernyataan ini bukanlah kritik belaka namun juga mengandung sedikit masukan yang mungkin masih kurang dipahami masyarakat. Di negara yang teknologinya maju, pemilu telah menggunakan alat canggih sehingga tidak perlu kertas lagi. Hal itu tentu tidak tepat diterapkan di  Indonesia yang bukan negara kaya. Kalau ada yang mengusulkan, pasti akan ditolak Menkeu, apalagi Wapres.

Nah kira-kira apa yang tepat? Pemilu di Indonesia itu kan terorganisir dengan baik, isian pilihannya sudah terdefinisi dengan jelas karena telah diverifikasi. Artinya pemilih sebenarnya tidak perlu menulis, tetapi cukup dengan memberi tanda, misalnya tanda ‘v’ atau ‘x’. Data pilihan partai, caleg, maupun capres, dikodekan dalam angka maupun tidak, dapat diakuisisi dengan mudah menggunakan scanner berkecepatan 300 lembar per menit plus perangkat lunak DMR yang ditempatkan di setiap kota/kabupaten.

Kalau ingin yang lebih hemat tetapi cukup cepat, perhitungan kertas suara tetap secara manual di TPS, tetapi berita acara alias rekapitulasinya berupa form yang siap untuk di-scan, tidak lagi di-entry manual.

Mimpikah itu? Tidak! Itu semua sudah mungkin untuk dilakukan, tinggal apakah pengambil 
kebijakannya melek teknologi atau tidak.

Mari kita saksikan…





Surat Sakti Gaya Orde Baru, Masihkah Laku?

7 11 2007

Anti-KKNAda sebuah tender di Dinas Pendidikan Propinsi Kepri, pengadaan 30 unit scanner pemeriksa ujian yang rencananya setiap kabupaten akan menerima 5 unit scanner (Batam Pos, 10 Oktober 2006). Pelelangan telah dilakukan tahun 2006, namun pemenangnya dianggap tidak dapat memenuhi syarat, sehingga lelang perlu diulang.

September-November 2007, tender kembali dilaksanakan untuk proyek yang sama. Sebagai hasil akhir, seharusnya paket Digital Mark Reader (DMR) dengan scanner Fujitsu yang menjadi pemenang, namun ternyata ada orang kuat di balik para pesaing DMR yang menjadikan keputusan itu seolah-olah terbantahkan, mereka menyebutnya ‘orang pusat’. Akhirnya tender kembali diulang.

Saya teringat saat berkunjung ke Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Barat tahun 2005, bersama rekan-rekan dari Sharp (PT Tritanu). Dr. H. Dadang Dally, M.Si., Kepala Dinas saat itu berujar bahwa saat ini bukan zamannya lagi Dinas Pendidikan memberikan rekomendasi kepada sekolah-sekolah, teknologi apa yang sebaiknya digunakan. Orde baru sudah berlalu, demikian kata beliau.
Baca entri selengkapnya »