Scanner Dokumen Untuk Periksa LJK (Discount Price)

16 10 2009

map-dmrPerusahaan kami adalah inventor dan prinsipal Digital Mark Reader (DMR), sebuah perangkat lunak atau software yang dapat menambah fungsi scanner dokumen ber-ADF sehingga juga dapat digunakan untuk pemeriksaan ujian, kuesioner, entri data dan psikotes.

Penemuan DMR dan pengembangannya dipimpin langsung oleh Prof. Iping Supriana, guru besar pertama dan peneliti senior di Informatika ITB sehingga kualitasnya tidak diragukan lagi. Bukan hanya menjadi andalan ITB, lebih dari 70 universitas ternama di Indonesia adalah pengguna DMR.

Digital Mark Reader (DMR) adalah hasil riset ITB tentang alat pemeriksa ujian berbiaya rendah. DMR dipasangkan dengan produk scanner merk HP, Canon, Kodak, Avision, Miru dan Fujitsu untuk melakukan pemindaian (scanning) Lembar Jawab Komputer (LJK). Tahun 2009, DMR terbaru mampu memeriksa hingga 12000 gambar/menit. Dengan efisiensi operasional yang ditawarkan, sebanyak 500 lembaga di 5 negara telah menggunakan ribuan lisensi DMR untuk dunia pendidikan, riset pemasaran, penilaian kinerja, psikotes, sertifikasi, entri data, penerimaan pegawai dan ujian seleksi CPNS.

Dengan Rp 13 juta, sekolah-sekolah juga dapat memiliki DMR Mini dengan kecepatan scanning 13 lembar per menit dan telah dilengkapi DMR Editor untuk merancang sendiri form LJK-nya. Untuk yang merasa cukup dengan kecepatan, tersedia DMR Mini mulai dari 8 jutaan.

Untuk selain sekolah, DMR Professional kini mampu mengoptimalkan kinerja prosessor hingga 4 kali lipat, dan dilengkapi dengan 2 unit dongle DMR sehingga operator dapat bekerja secara simultan melalui jaringan komputer, satu operator untuk scanning dan yang lain untuk verifikasi menggunakan DMR Extractor.

Daftar harga Paket DMR dapat dilihat di

Bila Anda sudah menemukan paket yang Anda butuhkan, silakan SMS ke 08156219300 untuk mendapatkan harga terbaik dari kami yang sudah di-discount, dengan menyebutkan nama, instansi dan password “DMR best price, please”.





    Professor DMR

    14 08 2009

    iping_2009_08_2Sejak Agustus 2009 Pak Iping resmi menjadi professor. Setahu saya, beliau adalah professor pertama di Informatika (kini STEI) ITB. Sepertinya beliau pantas mendapat rekor MURI atas pencapaian tersebut. Selamat untuk Pak Iping, eh salah, Prof Iping :)

    Salah satu penelitian fenomenal dari Prof Iping adalah Digital Mark Reader (DMR). Beliau adalah penggagas dari sistem tersebut. Bersama Tim Riset Unggulan ITB tahun 2002/2003 beliau mengembangkan sebuah alat pemeriksa ujian berbiaya rendah yang kemudian dinobatkan menjadi Winner of Indonesia – Asia Pacific ICT Award 2004 kategori Best of Education & Training.

    Salah satu prinsip hidupnya adalah tidak menjadi beban bagi orang lain serta mampu memberikan sebanyak-banyaknya manfaat terbaik bagi pihak lain. Salah satu caranya, beliau terus menjadi pengembang utama DMR agar dapat memberikan yang terbaik bagi banyak pihak, khususnya bangsa Indonesia.

    Tidak ada jarak dengan mahasiswa, itulah kesan pertama yang penulis tangkap sejak mengenal beliau 8 tahun lalu. Tapi jangan salah, keakrabannya dengan mahasiswa tidak mempengaruhi objektivitas beliau dalam memberikan nilai. Kuliahnya santai, tapi tugas yang diberikannya setiap pekan dianggap berat bagi sebagian besar mahasiswa, tingkat kesulitan tiap tahun selalu meningkat. Lemari di ruangannya penuh dengan tugas akhir dan tesis mahasiswa yang pernah dibimbingnya. Baca entri selengkapnya »





    DMR, Alat Periksa Ujian Untuk Segala Jenis Form

    24 07 2008

    Setelah penulis menjadi salah satu mahasiswa dan periset di ITB, bersama Prof Iping Supriana, kami menghasilkan sebuah produk berbasis riset yang fenomenal, Digital Mark Reader (DMR), sebuah sistem pemeriksaan ujian yang pertama kali diluncurkan ke pasar pada tahun 2004. Wujud fisiknya terdiri dari alat scanner dokumen (yang dilengkapi tray) ditambah perangkat lunak pendukung.

    Empat tahun telah berlalu sejak peluncurannya, kini DMR semakin dewasa. DMR berkembang menjadi sebuah sistem tangguh yang dipercaya oleh lebih dari 500 lembaga. Bukan hanya sekolah, namun juga termasuk 50-an perguruan tinggi termasuk ITB sendiri, 250-an dinas pendidikan kota/kabupaten, 30-an lembaga di bawah Depdiknas, beberapa departemen selain Depdiknas serta beberapa pemerintah propinsi, BUMN, bimbel ternama, bank dan rumah sakit terkemuka maupun industri pertambangan serta otomotif.

    Baca entri selengkapnya »





    DMR, Software Resmi Depdiknas untuk UASBN

    29 05 2008

    Setelah melalui proses seleksi dan tender yang berlarut-larut di Depdiknas, alhamdulillah bulan April 2008 kami diberi amanah untuk mengembangkan DMR UASBN, sebuah hasil kustomisasi dari perangkat lunak Digital Mark Reader (DMR). Bagi yang belum tahu, UASBN adalah singkatan dari Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional untuk SD/MI/SDLB.

    Sekitar 700 peserta dari dinas pendidikan setiap kota/kabupaten dan propinsi di Indonesia telah menjadi peserta pelatihan DMR UASBN yang diselenggarakan di Jakarta, 29 April – 4 Mei 2008. Pelatihan yang berjalan lancar tersebut diikuti dengan kelancaran pemrosesan scanning di tingkat kabupaten dan kota yang terus dipantau oleh tim teknis DMR UASBN bersama Puspendik Depdiknas.

    Beberapa sejarah yang tercetak pada pelaksanaan UASBN:

    1. Pertama kalinya ujian SD berskala nasional
    2. Pertama kalinya pemeriksaan ujian berskala nasional menggunakan scanner gambar, bukan scanner OMR sehingga membutuhkan perangkat lunak DMR
    3. Pertama kalinya lembar jawab ujian berskala nasional diisi dengan tanda silang, bukan bulatan
    4. Pertama kalinya dinas pendidikan kabupaten dan kota secara formal mengoperasikan scanner untuk ujian berskala nasional (karena sebelumnya semua scanning hanya dapat dilakukan di propinsi)


    Perjuangan sekian tahun untuk melakukan sosialisasi pengisian ujian dengan tanda silang akhirnya berbuah juga. Semoga pelaksanaan semua ujian berskala nasional di tahun berikutnya juga menggunakan tanda silang dan kembali diperiksa menggunakan DMR.

    web: http://digitalmarkreader.com





    Hati-Hati Mengisi Teko

    29 05 2008

    Aa Gym dalam sekian banyak kesempatan sering berujar “Teko hanya mengeluarkan isinya. Kalau isinya teh, yang keluar ya teh. Kalau isinya air putih, yang keluar ya air putih.”

    Setiap hari kita bergaul dan berinteraksi dengan orang-orang di sekitar kita. Dari tutur kata dan akhlak perilakunya kita dapat menebak isi hatinya. Tapi siapa sangka, ketika kita lama berpisah dan lalu bertemu kembali, sifatnya mungkin sudah jauh berbeda.

    Perumpamaan teko mungkin cukup tepat untuk menggambarkannya. Teko itu tidak cuma mengeluarkan sesuatu tetapi juga diisi dengan sesuatu. Di sini kita dapat mengambil makna yang lebih dalam. Teko bukan sekedar mengeluarkan isi, tetapi mengeluarkan sesuatu yang pernah masuk ke dalamnya.

    Masa-masa menimba ilmu secara formal rata-rata hanya 1/4 dari jatah usia hidup kita. Selebihnya bernama pengalaman, ciri utamanya: ujian dahulu baru belajar. Pengaruh orang tua dalam pembentukan karakter mungkin ada, tetapi tidak seberapa dibandingkan dengan pengaruh lingkungan, termasuk pendamping hidup, keluarga, sahabat, tetangga, rekan kerja, dan media massa.

    Pola pikir, permakluman, kebiasaan, tradisi, ketaatan, pembentukan alam khayal hingga penerapan aturan tanpa sengaja dapat terbentuk dari adanya interaksi langsung dengan sumbernya, melihat contoh, membaca berita, atau mendengar opini, dongeng maupun kisah atau hal-hal lain yang mungkin tidak berguna.

    Apa pesan moralnya? Hati-hatilah saat memasukkan ’sesuatu’ ke diri kita atau anak-anak kita. Bila hal itu buruk, ada 2 kemungkinan. Pertama, keburukan itu menumpuk menjadi sampah di dalam diri. Atau kedua, keburukan itu keluar dari diri dalam bentuk ucapan, pikiran, niat, bahkan perbuatan.

    Dibalut dengan perhiasan semahal apapun, teko tetap mengeluarkan apa yang pernah masuk ke dalamnya. Kita bukan teko, tapi mari belajar dari ‘ilmu teko’.





    8 Joki Teridentifikasi Pada Uji Teknis Peralatan UN Depdiknas

    20 03 2008

    joki1.jpg
    Ujian Nasional (UN) dan Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional (UASBN) akan segera digelar. Depdiknas tengah mempersiapkan segala yang dibutuhkan, termasuk peralatan pemeriksaan ujian. Namun proses pengadaannya pun tidak lepas dari praktek perjokian, yakni saat berlangsungnya uji teknis pengadaan peralatan ujian nasional dari tanggal 28 Februari hingga 4 Maret 2008 di Pusat Penilaian Pendidikan (Puspendik), Balitbang Depdiknas, Jl Gunung Sahari Raya, Jakarta.

    Terdapat 8 joki dengan kemampuan intelelektual tinggi yang teridentifikasi pada uji teknis tender pengadaan peralatan ujian nasional senilai Rp 19 milyar di Depdiknas. Mereka disusupkan, disamarkan dan disebar oleh salah satu vendor perangkat lunak menjadi karyawan dadakan pada 5 dari 16 perusahaan peserta lelang agar dapat menjadi operator perangkat lunak yang diuji.

    Dari beberapa joki diperoleh keterangan bahwa para joki yang sebenarnya berlevel trainer tersebut menganggap perbuatan mereka sah-sah saja. Mereka bersedia menjadi joki karena tidak tahu mengenai urgensi uji teknis pada pengadaan peralatan ujian nasional. Padahal, salah satu kriteria penting yang diuji pada uji teknis adalah tingkat kemudahan penggunaan perangkat lunak.

    Waktu yang tersedia bagi pelatihan perangkat lunak terpilih sangat singkat dan 509 unit sistem pemeriksa ujian tersebut nantinya akan digunakan secara tersebar di setiap dinas pendidikan kota dan kabupaten. Atas latar belakang itu, panitia uji teknis sejak jauh hari telah menetapkan peraturan tegas bahwa operator harus berasal dari perusahaan peserta lelang, bukan vendor perangkat lunak.

    Dengan keterlibatan 8 orang joki pada 5 perusahaan peserta lelang, proses penilaian uji teknis menjadi bias sehingga berpotensi mengakibatkan kerugian negara hingga milyaran rupiah sebagaimana telah terjadi sebelumnya pada pengadaan peralatan serupa pada tahun 2007. Dapat diterima dengan nalar, perangkat lunak yang memerlukan joki setingkat trainer sebagai operator pasti akan bermasalah ketika digunakan oleh orang biasa.

    Panitia uji teknis yang telah mendapatkan peringatan mengenai kehadiran para joki memilih untuk diam sambil menutup mata. Mereka seakan-akan menjadi bagian dari konspirasi dengan melindungi perusahaan peserta lelang yang melibatkan para joki. Panitia hanya memperhatikan pembenaran secara administratif, bahwa setiap operator telah mendapatkan surat tugas dari perusahaan peserta lelang.

    Panitia juga tampak berpihak ke salah satu vendor perangkat lunak dengan mengubah jadwal serta metode pelaksanaan uji teknis akibat ketidakmampuan salah satu vendor perangkat lunak untuk melalui salah satu tahap uji. Dalam tender ini, panitia juga meniadakan komponen penilaian yang sangat substantif bagi setiap sistem pemeriksa ujian yang ikut ‘diperlombakan’ pada uji teknis.

    Seharusnya beberapa hal berikut juga turut dinilai:
    1. Kredibilitas pengembang perangkat lunak sebagai tim (bukan perseorangan belaka).
    2. Kapabilitas pengembangnya sebagai perusahaan dalam menjamin keberlanjutan usia perangkat lunak.
    3. Kualitas dukungan teknis dan jangkauan pelayanan kepada pengguna perangkat lunak.
    4. Pengalaman penggunaan perangkat lunak dalam pemeriksaan ujian yang pengisiannya dengan tanda silang dengan volume pekerjaan minimum 100 ribu lembar.

    Kriteria penilaian dari segi pengalaman sangat penting mengingat bahwa 15 juta lembar jawab UASBN (SD/MI/SDLB) yang pengisiannya menggunakan tanda silang dijadwalkan akan diperiksa oleh lebih dari 450 dinas pendidikan kabupaten dan kota di Indonesia. Bila sistem pemeriksaan ujian yang terpilih cenderung dipaksakan menggunakan perangkat lunak dari salah satu vendor yang belum terpercaya, maka hasil UN dan UASBN yang diperoleh dapat meleset dari kenyataan sebenarnya sehingga tidak dapat menjadi tolok ukur kebijakan lokal maupun nasional dalam bidang pendidikan tahun ini maupun tahun-tahun berikutnya.

    Arif Rahmat
    Cipta Citra Codena
    Inventor dan Prinsipal DMR
    Jl. Batik Ayu No. 26
    Sukaluyu, Bandung
    022-2506417
    08156219300

    http://www.codena.co.id

    http://digitalmarkreader.com

    Baca juga:

    - DMR, Alat Periksa Ujian Untuk Segala Jenis Form





    Tak Mau Kalah dari GO, Primagama Juga Menggunakan DMR

    23 12 2007

    PrimagamaMenyusul lembaga bimbingan belajar Ganesha Operation (GO) yang menggunakan DMR sebagai pemeriksa ujian try out di 12 kota, Primagama area Bandung, area Jakarta, area Tangerang dan area Surabaya pun tak mau ketinggalan menggunakan DMR Paket Profesional III.

    Dengan persaingan yang demikian ketat, lembaga bimbingan belajar kini memang dituntut untuk memberikan layanan terbaik bagi para siswa-siswinya. Salah satu caranya ialah dengan makin sering melaksanakan try out internal maupun try out yang terbuka untuk umum.

    GO dan Primagama adalah 2 dari sekian banyak lembaga bimbingan belajar yang kini beralih ke teknologi Digital Mark Reader (DMR) setelah bertahun-tahun menggunakan mesin scanner berbasis Optical Mark Recognition (OMR). Kehadiran DMR tidak dapat disangkal telah memberi warna baru pada dunia pendidikan di Indonesia, ditambah lagi dengan kepercayaan lebih dari 50 universitas ternama di Indonesia yang saat ini juga menggunakan DMR.

    DMR adalah salah satu persembahan dari ITB untuk Indonesia, perangkat lunak yang dilengkapi dengan fitur-fitur teknologi yang inovatif di bidang citra (image) sebagai hasil dari riset dan pengembangan bertahun-tahun tanpa henti. Penemuan terbaru dalam pengembangan DMR di akhir 2007 adalah adanya Intelligent Custom Color Dropout (i-CCD) . Fitur tersebut memungkinkan penggunaan lembar jawab komputer yang biaya penggandaannya sangat ekonomis tanpa mengorbankan akurasi pengenalan tanda bulatan maupun tanda silang.

    Semoga puluhan juta siswa Indonesia dapat segera memperoleh manfaat dari adanya DMR melalui penggunaannya di sekolah, bimbingan belajar, Ujian Nasional (UN) maupun Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional (UASBN). Demikian pula bagi masyarakat umum yang mengikuti ujian seleksi CPNS, rekrutmen BUMN maupun perusahaan swasta berskala nasional.





    Ketika Bos Sedang Pergi, Itulah Saat yang Dinanti

    27 11 2007

    Kursi BosSebagian besar pekerja berstatus karyawan pasti merasa senang kalau pimpinanannya lama meninggalkan kantor, misalnya sedang ke luar kota, ke luar negeri, untuk liburan atau perjalanan dinas lainnya. Dengan perginya bos, para pekerja mungkin dapat merasa bebas tanpa pengawasan melekat atau terbebas dari kebiasaan buruk si bos yang mungkin sering marah, bertindak seenaknya, keterlaluan dalam memberi tugas tambahan, atau (maaf) suka melecehkan.

    Celakalah para bos jika ternyata keberadaannya selama ini menjadi bencana bagi orang lain, utamanya bawahannya.

    Di lingkungan rumah, mungkin saja anak akan lebih senang bila orangtuanya pergi sepanjang hari, karena mereka dapat berbuat sesukanya tanpa batasan aturan, dapat mengundang teman, menikmati keributan, atau bahkan mengadakan pesta obat-obatan terlarang.

    Pada konteks lingkungan pendidikan, ketidakhadiran dosen dan guru biasanya akan membuat mahasiswa dan siswa senang, apalagi bila sang dosen atau guru senangnya memarahi mahasiswa/siswanya. Marah adalah hal yang kadang muncul tanpa sebab, dan marah adalah hal yang tidak sedap. Anda masih ingat, siapa saja guru/dosen Anda yang paling sering marah? Janganlah menirunya!





    Surat Sakti Gaya Orde Baru, Masihkah Laku?

    7 11 2007

    Anti-KKNAda sebuah tender di Dinas Pendidikan Propinsi Kepri, pengadaan 30 unit scanner pemeriksa ujian yang rencananya setiap kabupaten akan menerima 5 unit scanner (Batam Pos, 10 Oktober 2006). Pelelangan telah dilakukan tahun 2006, namun pemenangnya dianggap tidak dapat memenuhi syarat, sehingga lelang perlu diulang.

    September-November 2007, tender kembali dilaksanakan untuk proyek yang sama. Sebagai hasil akhir, seharusnya paket Digital Mark Reader (DMR) dengan scanner Fujitsu yang menjadi pemenang, namun ternyata ada orang kuat di balik para pesaing DMR yang menjadikan keputusan itu seolah-olah terbantahkan, mereka menyebutnya ‘orang pusat’. Akhirnya tender kembali diulang.

    Saya teringat saat berkunjung ke Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Barat tahun 2005, bersama rekan-rekan dari Sharp (PT Tritanu). Dr. H. Dadang Dally, M.Si., Kepala Dinas saat itu berujar bahwa saat ini bukan zamannya lagi Dinas Pendidikan memberikan rekomendasi kepada sekolah-sekolah, teknologi apa yang sebaiknya digunakan. Orde baru sudah berlalu, demikian kata beliau.
    Baca entri selengkapnya »





    Undangan ‘e-content Forum’ dari Pustekkom Depdiknas

    30 10 2007

    Logo DepdiknasEntah dapat info dari mana, tiba-tiba di kantor ada fax masuk dari Pustekkom Depdiknas berisi undangan untuk kajian dan diskusi mengenai e-content, hari Kamis 1 November 2007 di Ciputat, Jakarta.

    Tak ada agenda, jadwal maupun keterangan mengenai materi spesifik yang akan dibahas, lampirannya hanyalah daftar undangan peserta e-content forum: Baca entri selengkapnya »