Parade PT Pengguna DMR di Iklan Kompas

3 05 2010

Beberapa iklan perguruan tinggi kian menghiasi Kompas selama beberapa pekan terakhir.

Ada persamaan di antara mereka, mereka adalah pengguna scanner Digital Mark Reader (DMR), hasil riset ITB.

Apa saja perguruan tinggi tersebut? Mari kita simak di bawah ini.

Universitas Padjajaran (Unpad)

Politeknik Manufaktur Negeri Bandung Baca entri selengkapnya »





Densus 88 Anti Teror Ikut Amankan UN 2010

21 03 2010

Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Pudji Astutik mengatakan, Operasi Cendekia sehubungan dengan pelaksanaan Ujian Nasional akan berlangsung tujuh hari sebelum hingga tujuh hari setelah pelaksanaan ujian.

Bukan hanya Samapta, Brimob, dan Lantas, pengamanan juga dilakukan oleh Reserse, Intel, dan Detasemen Khusus 88 (Densus 88 Anti Teror).

Menurut Pudji, Polisi tidak hanya mengamankan persiapan dan pelaksanaan ujian, namun juga akan menindak tegas kecurangan Ujian Nasional. “Jangan sampai ada joki, penggandaan soal ilegal, atau adanya kebocoran”, ujarnya.

Disadur dari Koran Tempo, Rabu, 17 Maret 2010 hal A7

Nah, sebenarnya kalau di UN itu kan jarang ada joki. Yang banyak terjadi, pengawas memberikan jawaban kepada siswa atau membiarkan mereka bekerjasama atau berbuat kecurangan lainnya. Apakah UN 2010 ini akan ada pelaku kecurangan yang ditembak di tempat, sebagaimana kebiasaan personil Densus 88 yang sering kita lihat di berita? Baca entri selengkapnya »





Kuliahlah, Ada 20.000 Beasiswa Bidik Misi 2010

15 02 2010

Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi – Departemen Pendidikan Nasional mulai tahun 2010 memberikan beasiswa dan biaya pendidikan bagi calon mahasiswa dari keluarga yang kurang mampu secara ekonomi dan berprestasi yang disebut Beasiswa BIDIK MISI. Dari 20000 beasiswa yang tersedia, ITB dapat 450, ITS dapat 450, UGM dapat 500, UI dapat 500, IPB dapat 500, Undip dapat 500, Unhas dapat 500, Unpad dapat 500, Unair dapat 500, USU dapat 500, Unand dapat 500, Unimed dapat 500, UNP dapat 500.

Siapa yang boleh mendapatkannnya? Lulusan jenjang pendidikan menengah yang terdiri atas lulusan SMA/SMK/MA/MAK atau bentuk lain yang sederajat tahun 2010 yang berprestasi dan orang tua/wali-nya kurang mampu secara ekonomi.
Sampai kapan diberikannya? Beasiswa diberikan sejak calon mahasiswa dinyatakan diterima di perguruan tinggi selama 8 (delapan) semester untuk program Diploma IV dan S1, dan selama 6 (enam) semester untuk program Diploma III dengan ketentuan penerima beasiswa berstatus mahasiswa aktif.
Siapa penyalur dananya? Penyelenggara program beasiswa BIDIK MISI adalah perguruan tinggi negeri dan perguruan tinggi BHMN terpilih di bawah Departemen Pendidikan Nasional dan Departemen Agama.
Berapa besar beasiswanya? Baca entri selengkapnya »





Pendaftaran MAN Insan Cendekia Gunakan Formulir DMR

1 02 2010


Di halaman depan situs web Kementerian Agama RI, sejak akhir Januari 2010 terdapat informasi penting berupa Penerimaan Siswa Baru (PSB) MAN Insan Cendekia Tahun Pelajaran 2010/2011.

Salah satu isinya adalah Baca entri selengkapnya »





Kemendiknas dan TNI Tambah Lisensi DMR Profesional

28 01 2010


Di akhir bulan Januari 2010, Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) kembali menambah scanner LJK dan lisensi Digital Mark Reader (DMR) yang dimilikinya. Pelatihan penggunaan scanner Fujitsu dan DMR Profesional tersebut berlangsung di Gedung E Kemendiknas selama 4 jam. Rencananya, DMR sebagai scanner LJK akan digunakan untuk kegiatan peningkatan mutu pembelajaran.

Sebelumnya, Kemendiknas telah menggunakan ratusan unit scanner Fujitsu dan lisensi DMR Profesional buatan Codena untuk digunakan di berbagai organisasi di bawah koordinasi Kemendiknas, termasuk dinas pendidikan kabupaten/kota, Pusdiklat Pegawai, Puspendik, PMPTK, LPMP, PPPG Tertulis, dsb.

Di bulan yang sama, pengguna DMR Profesional untuk keperluan ujian dan psikotes juga bertambah, yaitu di Dinas Psikologi TNI-AU dan Dinas Psikologi TNI-AD. Hal ini membuktikan kualitas produk dan layanan DMR yang makin dapat diandalkan dan terpercaya.





Scanner Dokumen Untuk Periksa LJK (Discount Price)

16 10 2009

map-dmrPerusahaan kami adalah inventor dan prinsipal Digital Mark Reader (DMR), sebuah perangkat lunak atau software yang dapat menambah fungsi scanner dokumen ber-ADF sehingga juga dapat digunakan untuk pemeriksaan ujian, kuesioner, entri data dan psikotes.

Penemuan DMR dan pengembangannya dipimpin langsung oleh Prof. Iping Supriana, guru besar pertama dan peneliti senior di Informatika ITB sehingga kualitasnya tidak diragukan lagi. Bukan hanya menjadi andalan ITB, lebih dari 70 universitas ternama di Indonesia adalah pengguna DMR.

Digital Mark Reader (DMR) adalah hasil riset ITB tentang alat pemeriksa ujian berbiaya rendah. DMR dipasangkan dengan produk scanner merk HP, Canon, Kodak, Avision, Miru dan Fujitsu untuk melakukan pemindaian (scanning) Lembar Jawab Komputer (LJK). Tahun 2009, DMR terbaru mampu memeriksa hingga 12000 gambar/menit. Dengan efisiensi operasional yang ditawarkan, sebanyak 500 lembaga di 5 negara telah menggunakan ribuan lisensi DMR untuk dunia pendidikan, riset pemasaran, penilaian kinerja, psikotes, sertifikasi, entri data, penerimaan pegawai dan ujian seleksi CPNS.

Dengan Rp 13 juta, sekolah-sekolah juga dapat memiliki DMR Mini dengan kecepatan scanning 13 lembar per menit dan telah dilengkapi DMR Editor untuk merancang sendiri form LJK-nya. Untuk yang merasa cukup dengan kecepatan, tersedia DMR Mini mulai dari 8 jutaan.

Untuk selain sekolah, DMR Professional kini mampu mengoptimalkan kinerja prosessor hingga 4 kali lipat, dan dilengkapi dengan 2 unit dongle DMR sehingga operator dapat bekerja secara simultan melalui jaringan komputer, satu operator untuk scanning dan yang lain untuk verifikasi menggunakan DMR Extractor.

Daftar harga Paket DMR dapat dilihat di

Bila Anda sudah menemukan paket yang Anda butuhkan, silakan SMS ke 08156219300 untuk mendapatkan harga terbaik dari kami yang sudah di-discount, dengan menyebutkan nama, instansi dan password “DMR best price, please”.





    Professor DMR

    14 08 2009

    iping_2009_08_2Sejak Agustus 2009 Pak Iping resmi menjadi professor. Setahu saya, beliau adalah professor pertama di Informatika (kini STEI) ITB. Sepertinya beliau pantas mendapat rekor MURI atas pencapaian tersebut. Selamat untuk Pak Iping, eh salah, Prof Iping :)

    Salah satu penelitian fenomenal dari Prof Iping adalah Digital Mark Reader (DMR). Beliau adalah penggagas dari sistem tersebut. Bersama Tim Riset Unggulan ITB tahun 2002/2003 beliau mengembangkan sebuah alat pemeriksa ujian berbiaya rendah yang kemudian dinobatkan menjadi Winner of Indonesia – Asia Pacific ICT Award 2004 kategori Best of Education & Training.

    Salah satu prinsip hidupnya adalah tidak menjadi beban bagi orang lain serta mampu memberikan sebanyak-banyaknya manfaat terbaik bagi pihak lain. Salah satu caranya, beliau terus menjadi pengembang utama DMR agar dapat memberikan yang terbaik bagi banyak pihak, khususnya bangsa Indonesia.

    Tidak ada jarak dengan mahasiswa, itulah kesan pertama yang penulis tangkap sejak mengenal beliau 8 tahun lalu. Tapi jangan salah, keakrabannya dengan mahasiswa tidak mempengaruhi objektivitas beliau dalam memberikan nilai. Kuliahnya santai, tapi tugas yang diberikannya setiap pekan dianggap berat bagi sebagian besar mahasiswa, tingkat kesulitan tiap tahun selalu meningkat. Lemari di ruangannya penuh dengan tugas akhir dan tesis mahasiswa yang pernah dibimbingnya. Baca entri selengkapnya »





    DMR, Alat Periksa Ujian Untuk Segala Jenis Form

    24 07 2008

    Setelah penulis menjadi salah satu mahasiswa dan periset di ITB, bersama Prof Iping Supriana, kami menghasilkan sebuah produk berbasis riset yang fenomenal, Digital Mark Reader (DMR), sebuah sistem pemeriksaan ujian yang pertama kali diluncurkan ke pasar pada tahun 2004. Wujud fisiknya terdiri dari alat scanner dokumen (yang dilengkapi tray) ditambah perangkat lunak pendukung.

    Empat tahun telah berlalu sejak peluncurannya, kini DMR semakin dewasa. DMR berkembang menjadi sebuah sistem tangguh yang dipercaya oleh lebih dari 500 lembaga. Bukan hanya sekolah, namun juga termasuk 50-an perguruan tinggi termasuk ITB sendiri, 250-an dinas pendidikan kota/kabupaten, 30-an lembaga di bawah Depdiknas, beberapa departemen selain Depdiknas serta beberapa pemerintah propinsi, BUMN, bimbel ternama, bank dan rumah sakit terkemuka maupun industri pertambangan serta otomotif.

    Baca entri selengkapnya »





    DMR, Software Resmi Depdiknas untuk UASBN

    29 05 2008

    Setelah melalui proses seleksi dan tender yang berlarut-larut di Depdiknas, alhamdulillah bulan April 2008 kami diberi amanah untuk mengembangkan DMR UASBN, sebuah hasil kustomisasi dari perangkat lunak Digital Mark Reader (DMR). Bagi yang belum tahu, UASBN adalah singkatan dari Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional untuk SD/MI/SDLB.

    Sekitar 700 peserta dari dinas pendidikan setiap kota/kabupaten dan propinsi di Indonesia telah menjadi peserta pelatihan DMR UASBN yang diselenggarakan di Jakarta, 29 April – 4 Mei 2008. Pelatihan yang berjalan lancar tersebut diikuti dengan kelancaran pemrosesan scanning di tingkat kabupaten dan kota yang terus dipantau oleh tim teknis DMR UASBN bersama Puspendik Depdiknas.

    Beberapa sejarah yang tercetak pada pelaksanaan UASBN:

    1. Pertama kalinya ujian SD berskala nasional
    2. Pertama kalinya pemeriksaan ujian berskala nasional menggunakan scanner gambar, bukan scanner OMR sehingga membutuhkan perangkat lunak DMR
    3. Pertama kalinya lembar jawab ujian berskala nasional diisi dengan tanda silang, bukan bulatan
    4. Pertama kalinya dinas pendidikan kabupaten dan kota secara formal mengoperasikan scanner untuk ujian berskala nasional (karena sebelumnya semua scanning hanya dapat dilakukan di propinsi)


    Perjuangan sekian tahun untuk melakukan sosialisasi pengisian ujian dengan tanda silang akhirnya berbuah juga. Semoga pelaksanaan semua ujian berskala nasional di tahun berikutnya juga menggunakan tanda silang dan kembali diperiksa menggunakan DMR.

    web: http://digitalmarkreader.com





    Hati-Hati Mengisi Teko

    29 05 2008

    Aa Gym dalam sekian banyak kesempatan sering berujar “Teko hanya mengeluarkan isinya. Kalau isinya teh, yang keluar ya teh. Kalau isinya air putih, yang keluar ya air putih.”

    Setiap hari kita bergaul dan berinteraksi dengan orang-orang di sekitar kita. Dari tutur kata dan akhlak perilakunya kita dapat menebak isi hatinya. Tapi siapa sangka, ketika kita lama berpisah dan lalu bertemu kembali, sifatnya mungkin sudah jauh berbeda.

    Perumpamaan teko mungkin cukup tepat untuk menggambarkannya. Teko itu tidak cuma mengeluarkan sesuatu tetapi juga diisi dengan sesuatu. Di sini kita dapat mengambil makna yang lebih dalam. Teko bukan sekedar mengeluarkan isi, tetapi mengeluarkan sesuatu yang pernah masuk ke dalamnya.

    Masa-masa menimba ilmu secara formal rata-rata hanya 1/4 dari jatah usia hidup kita. Selebihnya bernama pengalaman, ciri utamanya: ujian dahulu baru belajar. Pengaruh orang tua dalam pembentukan karakter mungkin ada, tetapi tidak seberapa dibandingkan dengan pengaruh lingkungan, termasuk pendamping hidup, keluarga, sahabat, tetangga, rekan kerja, dan media massa.

    Pola pikir, permakluman, kebiasaan, tradisi, ketaatan, pembentukan alam khayal hingga penerapan aturan tanpa sengaja dapat terbentuk dari adanya interaksi langsung dengan sumbernya, melihat contoh, membaca berita, atau mendengar opini, dongeng maupun kisah atau hal-hal lain yang mungkin tidak berguna.

    Apa pesan moralnya? Hati-hatilah saat memasukkan ‘sesuatu’ ke diri kita atau anak-anak kita. Bila hal itu buruk, ada 2 kemungkinan. Pertama, keburukan itu menumpuk menjadi sampah di dalam diri. Atau kedua, keburukan itu keluar dari diri dalam bentuk ucapan, pikiran, niat, bahkan perbuatan.

    Dibalut dengan perhiasan semahal apapun, teko tetap mengeluarkan apa yang pernah masuk ke dalamnya. Kita bukan teko, tapi mari belajar dari ‘ilmu teko’.








    Ikuti

    Get every new post delivered to your Inbox.