Menyusul lembaga bimbingan belajar Ganesha Operation (GO) yang menggunakan DMR sebagai pemeriksa ujian try out di 12 kota, Primagama area Bandung, area Jakarta, area Tangerang dan area Surabaya pun tak mau ketinggalan menggunakan DMR Paket Profesional III.
Dengan persaingan yang demikian ketat, lembaga bimbingan belajar kini memang dituntut untuk memberikan layanan terbaik bagi para siswa-siswinya. Salah satu caranya ialah dengan makin sering melaksanakan try out internal maupun try out yang terbuka untuk umum.
GO dan Primagama adalah 2 dari sekian banyak lembaga bimbingan belajar yang kini beralih ke teknologi Digital Mark Reader (DMR) setelah bertahun-tahun menggunakan mesin scanner berbasis Optical Mark Recognition (OMR). Kehadiran DMR tidak dapat disangkal telah memberi warna baru pada dunia pendidikan di Indonesia, ditambah lagi dengan kepercayaan lebih dari 50 universitas ternama di Indonesia yang saat ini juga menggunakan DMR.
DMR adalah salah satu persembahan dari ITB untuk Indonesia, perangkat lunak yang dilengkapi dengan fitur-fitur teknologi yang inovatif di bidang citra (image) sebagai hasil dari riset dan pengembangan bertahun-tahun tanpa henti. Penemuan terbaru dalam pengembangan DMR di akhir 2007 adalah adanya Intelligent Custom Color Dropout (i-CCD) . Fitur tersebut memungkinkan penggunaan lembar jawab komputer yang biaya penggandaannya sangat ekonomis tanpa mengorbankan akurasi pengenalan tanda bulatan maupun tanda silang.
Semoga puluhan juta siswa Indonesia dapat segera memperoleh manfaat dari adanya DMR melalui penggunaannya di sekolah, bimbingan belajar, Ujian Nasional (UN) maupun Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional (UASBN). Demikian pula bagi masyarakat umum yang mengikuti ujian seleksi CPNS, rekrutmen BUMN maupun perusahaan swasta berskala nasional.
Dell seri Inspiron tahun 1998, laptop pertama tempat saya belajar menggunakan touchpad. Punya kakak yang baru pulang dari Belanda setelah 10 tahun di sana. Katanya harga baru saat itu 3000 USD, trus dia beli bekas 3000 Gulden. Tahun 1998, saya masih SMA kelas 3, bengong aja lihat Linux, dan VMware, dial-up internet, wong Windows 98 saja masih baru banget keluarnya.
Dari 1998 sampai 2002, saya kebanyakan pakai PC. Tahun 2003, saat
Tahun 2004,
Kurun waktu 2004-2005, saya beli beberapa laptop bekas untuk Suteki maupun
Petualangan belum berakhir, tapi baru saja dimulai. 2006-2007 adalah tahunnya Wearnes, Forsa dan Axioo. Kami hanya memilih yang terbaik, prosesornya Intel, batangannya dari MSI, dan kalau bisa harddisk-nya dari Fujitsu. Hasil pabrikan MSI bentuknya OK, tahan banting, berat masih dapat diterima, dan baterainya murah, tidak sulit dicari. Ada 4 unit Forsa, 6 unit Axioo dan 2 unit Wearnes yang kami beli. Kami juga punya 3 unit Acer (dengan harga setara 2 unit Forsa), tapi salah satunya
2007 hampir berakhir, kisah berburu notebook terus berlanjut. Kini lain dari biasanya, dapat Sony Vaio UMPC 4.5″, dan HP Tablet PC TX1221AU 12″, ceritanya mau membiasakan diri pakai touchscreen, menjelang kemunculan Komputer Meja dari Microsoft. Sony Vaio bermesin Intel, dan HP pakai AMD Athlon 64 X2.

